Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU
Setiap kali Muktamar Nahdlatul Ulama digelar, keriuhannya kerap kali mirip panggung haflatul imtihan di pesantren: meriah, sarat silaturahmi, gegeran pemilihan ketua umum, lalu diakhiri dengan doa dan santap berkatan. Setelah muktamar usai, urusan wujud organisasi di masa depan seolah dikembalikan lagi pada takdir dan angin lalu.
Berangkat dari kegelisahan itulah Yanuar Prihatin melahirkan risalah bertajuk JIKA NU TIDAK BERUBAH… AKHIR ADALAH AWAL (Agustus 2026). Risalah yang diterbitkan secara mandiri ini bukanlah caci maki pengamat luar, melainkan ide-ide yang tampaknya murni lahir dari letupan-letupan kecintaan seorang kader NU yang sehari-hari merasakan denyut nadi perjalanan NU dari masa ke masa, mulai dari tingkat desa sampai tingkat nasional.
Diagnosis Yanuar terbilang menukik tajam. Menurutnya, urusan kaderisasi yang mandek atau ekonomi umat yang kempot sesungguhnya hanyalah gejala (illat). Akar penyakit sebenarnya adalah ketiadaan gambaran bersama mengenai bentuk akhir (end-state) jam’iyah ini. Maka, ia menawarkan pameo radikal: tetapkan dulu wujud paripurna NU di tahun 2045, baru kemudian menarik garis strateginya mundur ke masa kini.
Penulis lantas menyodorkan Tujuh Disiplin Transformasi dengan target-target yang cukup bikin terperanjat: mendirikan 50 holding bisnis, menguasai 30% sektor retail, hingga sertifikasi kompetensi manajemen bagi pengurus cabang. Sekilas, buku ini tampak terlalu melambung gagasan-gagasan teknisnya untuk dipraktikkan di tubuh jam’iyah NU yang terkenal kenyal dan terbiasa dengan kultur alon-alon asal kelakon. Membayangkan struktur NU yang sangat luas dipaksa memakai baju ketat manajemen modern berstandar ISO tentu butuh mujahadah ekstra. Namun, di situlah letak keseriusannya, termasuk dorongan porsinya yang adil bagi perempuan dan santri sebagai muharrik (penggerak) utama di ruang keputusan—bukan lagi sekadar ditaruh di barisan belakang.
Tentu saja, menjejalkan logika korporasi ke dalam tradisi patronase dan kultur sowan khas warga nahdliyin tidak semudah membalik lembaran kitab kuning. Ada pergeseran mentalitas dan “darah-keringat” kultural yang amat berat untuk membongkar zona nyaman.
Namun, justru di situlah letak faedahnya. Meminjam istilah majalah Tempo “enak dibaca dan perlu”, buku ini sangat layak jadi buku pegangan para pengurus NU dari anak ranting hingga PBNU. Sebelum para kiai, elite, dan aktivis keburu sibuk merancang taktik kamar hotel jelang Muktamar, ada baiknya khataman dulu cermin besar ini. Sebab hukum sejarah itu dingin: jika NU tak mau mendesain masa depannya sendiri, zamanlah yang akan meninggalkannya tanpa permisi.
Identitas Buku
Judul: JIKA NU TIDAK BERUBAH… AKHIR ADALAH AWAL (Blueprint Transformasi Nahdlatul Ulama Menuju 2045)
Penulis: Yanuar Prihatin
Bulan/Tahun Terbit: Agustus 2026









