Kamis, 22 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Menemukan Alasan Hidup dari Buku “Semoga Kamu Bisa Tersenyum Hari ini”

Sebuah catatan untuk menjalani hidup, karya Marcella Viona Legoh

Oleh Dimas Yusuf
22 Agustus 2025
di Resensi
A A

Pasti kamu ada temen yang serba jago di semua lini bidang kehidupan ini. Jago olahraga, jago bersosial, jago masak, dan semua hal yang dia coba pasti lebih baik dari yang kamu coba. Dari situ, kamu merasa terkalahkan dan sepertinya ngga bakat dalam segala bidang. Bahkan seringkali merasa kalah dari teman-teman mu itu. Coba deh baca buku “Semoga Kamu Bisa Tersenyum Hari ini” biar sadar kalau tidak semuanya dalam hidup itu harus dikompetisikan.

Mungkin sudah jadi sifat dasar manusia untuk ingin selalu menang. Dari kecil kita juga sudah diajarkan untuk menjadi juara kelas ataupun lebih baik dari anak tetangga. Buku “Semoga Kamu Bisa Tersenyum Hari ini” karya Marcella Viona Legoh akan menyadarkan kamu untuk menjalani kehidupan dengan slow but sure. Tidak harus terburu-buru untuk melakukan sesuatu. Terkadang, kita yang terlalu memaksakan kehendak, sehingga berakhir kecewa kepada diri sendiri.

Menemukan makna di setiap kegiatan

Dari halaman awal kamu membaca buku ini, kamu langsung sadar kalau buku ini akan “nasehatin” diri kamu. Di awal,  penulis menceritakan tentang perasaan dirinya yang takut gagal menjadi manusia. Semakin bertambah dewasa, pastinya kita memikirkan tentang masa depan. Dan orang-orang pastinya ingin hidup sesuai dengan apa yang diharapkannya. Bagi penulis hal itu terlalu naif, hidup ini hanya perlu dijalani, dinikmati, dan disyukuri. Siapalah kita untuk harus menjadi lebih baik dari orang lain, tetapi tidak menikmati kehidupannya sekarang.

Di dalam buku “Semoga Kamu Bisa Tersenyum Hari Ini” menurunkan ekspektasi di dalam hidup, bisa membuatmu lebih bahagia. Kalau kita anggap hidup ini “harus” seperti jalan yang lurus, aspal yang mulus, dan jalan yang tidak ada lubangnya; maka ketika hal tersebut tidak sesuai dengan anggapanmu, hidupmu akan menjadi sulit. Bukankah lebih baik kalau kita anggap hidup ini seperti jalan yang rusak dan banyak rintangan yang sulit? Sehingga kita siap menghadapi segala ketidakpastian di depan mata. Syukur-syukur ternyata jalan yang kamu lewati tersebut mulus, pasti rasa bahagianya bisa dirasakan sepanjang hari.

Pada beberapa sub-bab yang lain, buku karya Marcella ini juga ngomongin sifat manusia yang gampang terbiasa sama suatu hal. Bayangkan, kalo kamu lagi menjalankan program diet super ketat. Seporsi mie instan dengan kuah yang gurih itu akan menjadi hal yang istimewa buat kamu. Akan tetapi, jika kamu makan mie instan tersebut setiap hari, makanan yang tadinya istimewa akan berubah menjadi hambar. Ia menuliskan kalau hidup tersebut butuh berbagai macam rasa. Untuk bisa menghargai rasa manis, mungkin rasa pahit harus kamu rasakan terlebih dahulu.

BACA JUGA:

Dari Penjara Menuju Lumbung Negara: Refleksi Kebijakan Publik atas “Strategi Fiskal Nabi Yusuf”

Kitab Nahwul Qulub: Asupan Gizi Tambahan Untuk Nalar Para Santri

Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

Jangan lupa bersyukur

Cerita keseharian dari Marcella sebagai penulis buku “Semoga Kamu Bisa Tersenyum Hari Ini” juga ngingetin bahwa setiap orang itu punya privilege. Coba lihat sekelilingmu, kamu masih bisa makan hari ini? Kamu masih tertawa bersama teman-temanmu? Kamu masih bisa tidur nyenyak? Bersyukurlah karena tidak semua orang bisa merasakan hal tersebut.

Percaya bahwa setiap fase kehidupanmu itu punya arti tersendiri. Ketika penulis bekerja di kantor yang menurutnya sudah mewah. Fasilitas kantor yang mumpuni, mendapatkan “nasi kotak” untuk makan siang; ada tunjangan kacamata dan cek gigi. Akan tetapi, ada temannya yang tidak bisa “hanya” menikmati hal tersebut. Ia selalu ingin lebih dari apa yang didapatkannya sekarang. Sedangkan di sisi lain, penulis bisa merasakan “kenikmatan” dengan melihat banyaknya perusahaan yang tidak memberikan hal tersebut kepada karyawannya.

Jadi, sudah tahu cara kamu tersenyum hari ini?

 

BACA JUGA: Belajar Merawat Diri, dari Buku “Self-Gardening Project”

 

Judul: Semoga Kamu Bisa Tersenyum Hari Ini

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Terbitan: Agustus, 2025

ISBN: 978-623-04-2396-3

Tebal: 116 Halaman

Topik: resensiSemoga Kamu Bisa Tersenyum Hari Ini
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Belajar Merawat Diri, dari Buku “Self-Gardening Project”

Selanjutnya

Menulis dan Merantau, A. Fuadi: Menitipkan Pesan di Berbagai Tempat

Dimas Yusuf

Dimas Yusuf

Redaktur Jakarta Book Review (JBR)

TULISAN TERKAIT

nabi yusuf

Dari Penjara Menuju Lumbung Negara: Refleksi Kebijakan Publik atas “Strategi Fiskal Nabi Yusuf”

2 Oktober 2026
nahwul qulub tata bahasa ruhani

Kitab Nahwul Qulub: Asupan Gizi Tambahan Untuk Nalar Para Santri

30 September 2026
Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

7 September 2026
menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Menulis dan Merantau, A. Fuadi: Menitipkan Pesan di Berbagai Tempat

Menulis dan Merantau, A. Fuadi: Menitipkan Pesan di Berbagai Tempat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

penerbit rene turos

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

20 Oktober 2026
Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

17 Oktober 2026
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In