Kitab Nahwul Qulub: Asupan Gizi Tambahan Untuk Nalar Para Santri
Di pesantren, nahwu itu fardhu ain. Santri tak akan berani menyentuh kitab kuning kalau alat bedahnya tumpul. Jenjangnya jelas dan berdarah-darah: mulai dari meraba matan Jurumiyah, menaiki syi’ir Imrithy, hingga mabuk kepayang menghafal seribu bait Alfiyah Ibnu Malik.
Sayangnya, rutinitas ini sering bikin nahwu mandek jadi ilmu mekanis. Cuma ribut mencari jejak mubtada-khabar, atau mengurusi nasib si Zaid yang tak henti-hentinya memukul Amran. Nahwu akhirnya sekadar jadi “satpam” gramatikal. Alat jaga-jaga supaya lisan tak kepeleset (sabqul lisan).
Di titik jenuh itulah, Imam Qusyairi hadir membawa “wahyu” segar. Lewat kitab Nahwul Qulûb: Tata Bahasa Ruhani, sang sufi polimatik ini membetot nahwu dari urusan lisan menuju tata krama kalbu. Ini bukan buku rohani pelengkap tidur. Ini asupan gizi intelektual tingkat tinggi yang memaksa nalar santri berpikir out of the box, progresif, dan inovatif.
Kita mengenal Imam Qusyairi dari mahakarya Risalah Qusyairiyyah. Tapi beliau bukan tipe sufi yang cuma asyik uzlah di pucuk gunung. Beliau itu mufassir, pakar ushul fikih, mutakallim, sekaligus penyair ulung.
Buku yang diterjemahkan dengan renyah oleh KH. Supirso dan disunting apik oleh Ariel Pramudya ini merangkum dua karyanya sekaligus: Nahwul Qulûb al-Kabîr dan as-Shaghîr. Tebalnya 232 halaman. Pas. Persis secangkir kopi kothok Lasem: ringkas, pekat, dan bikin mata batin melek semalaman.
Cara sang Imam menyentil kita sungguh jenaka. Di bab awal, ia membedah kata nahwu yang aslinya bermakna “tujuan menuju kebenaran”. Kalau nahwu lahiriah memoles lisan, nahwu batiniah memoles kalbu agar pantas menghadap Tuhan.
Konsep i’rab (perubahan akhir kata) pun naik kelas. Posisi hamba kala berdialog dengan Ilahi dibedah tajam: mana yang sebatas munadah (merintih di pintu pelayanan), mana yang sudah munajat (merindu dalam hamparan kedekatan). Tiba-tiba, nalar kita diajak melompat dari teks yang kaku ke samudra konteks yang mahaluas.
Pengantar Dr. Nasaruddin Idris Jauhar di buku ini makin menelanjangi ironi kita. Banyak orang mabuk kepayang mengkaji bahasa Arab, mengiranya sebagai “puncak makrifat”, tapi gagap dalam aplikasi. Padahal nahwu itu cuma wasilah alias perantara.
Qusyairi secara cerdas justru memakai logika kebahasaan yang sudah ngelotok di kepala santri untuk membedah spiritualitas. Hasilnya? Sebuah Tasawuf Made Easy. Tasawuf kelas berat yang dibungkus dengan sangat renyah.
Momen terbitnya buku ini (Agustus 2022) juga sangat jeli. Belakangan ini, banyak mahasiswa kampus umum yang ghirah mengkaji keislamannya sedang meledak, tapi mentok di tembok bahasa Arab. Terbitan Turos Pustaka ini hadir jadi jembatan penyeberangan.
Teks Arab aslinya tetap nampang menemani kutipan ayat dan hadis. Santri puritan yang kangen sensasi sorogan bisa terpuaskan, sementara masyarakat awam tetap bisa mengunyah gizinya tanpa perlu mengerutkan dahi.
Menamatkan buku ini bikin kita tertawa getir menertawakan diri sendiri. Jangan-jangan, ibadah kita selama ini hambar bukan karena lisan tak fasih merapal doa. Tapi karena i’rab hati kita yang kadung berantakan—terlalu marfu’ (tinggi) oleh kesombongan, dan kelewat gengsi untuk majrur (merendah) dalam ketawadhuan. Segera tebus buku ini, seduh kopi Anda, dan biarkan kalbu Anda di-i’rab langsung oleh sang maestro dari Naisabur.








