Jumat, 23 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Sepakbola, Meneer Belanda, dan Bekas Inlander

Dulu kita dipanggil inlander, sekarang mereka yang datang untuk jadi bagian dari kita. Ironi ini, verdomme, sungguh indah!

Oleh Cak Jipiti
20 Maret 2025
di Kolom
A A

Tim nasional sepakbola Indonesia kini berisi anak-anak muda keturunan Belanda, berlari gesit dengan nama belakang yang lebih cocok dicetak di kartu identitas Apeldoorn ketimbang KTP Cilandak atau Pondok Indah sekalipun. Mereka ini, ironisnya, mewakili bangsa yang dulu disebut sebagai inlander, sebuah kata ajaib yang dalam kamus kolonial artinya kira-kira “yang nasibnya ditentukan oleh orang yang lebih terang warna kulitnya.”

Tapi zaman sudah berubah. Sekarang, anak-anak ‘londo’ itu justru berdiri tegap di lapangan, menyanyikan “Indonesia Raya” dengan logat yang—meski sedikit bergetar—masih lebih baik daripada sebagian pejabat republiken yang suka lupa lirik.

Di sesi latihan, komunikasi mereka dengan pelatih dan ofisial menjadi tontonan tersendiri. Maklum saja, pelatih dan sebagian asistennya juga Meneer van Holland. Salah satu pemain, sebut saja van Depok, menerima instruksi dalam bahasa Indonesia, tapi otaknya masih mengira ini pengumuman keterlambatan kereta di Stasiun Utrecht.

“Van Depok, ambil bola, oper ke tengah!” teriak seorang temannya, pemain lokal.

“Verdomme, ik begrijp het niet!” (Sialan, saya nggak ngerti!) balasnya dengan frustrasi, sambil menyeka keringat.

BACA JUGA:

16 Tahun Rene Turos: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

MBG: Membaca Buku Gratis

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

Di sisi lapangan, seorang ofisial mencoba mengingat pelajaran bahasa Belanda dari film-film tempo dulu. Dengan percaya diri, dia menepuk pundak Van Depok dan berkata, “Jangan seperti itu, Tuan! Kamu ini kan bukan inlander!”

Van Depok menatapnya dengan bingung. “Inlander?” katanya. “Wat is dat?”

Tiba-tiba suasana menjadi canggung. Ofisial itu sadar, ini tahun 2025, bukan 1925.

Di sesi wawancara, para pemain keturunan ini sering ditanya apakah mereka merasa lebih Belanda atau lebih Indonesia. Salah satu dari mereka menjawab dengan santai, “Saya Belanda kalau soal keju, tapi Indonesia kalau soal sambal.”

Lalu, apakah kehadiran mereka akan membawa Indonesia ke Piala Dunia? Itu pertanyaan berat. Yang jelas, kini kita punya tim yang bisa bertukar taktik dalam tiga bahasa: Indonesia, Belanda, dan bahasa tubuh universal yang berarti “Sial, itu harusnya offside!”

Sementara itu, para pemain lawas yang dulu dituduh sebagai inlander sepakbola kini hanya bisa tersenyum di bangku cadangan. Mungkin, dalam hati mereka bergumam: “Dulu kita dipanggil inlander, sekarang mereka yang datang untuk jadi bagian dari kita. Ironi ini, verdomme, sungguh indah!”

Semoga Oom Douwes Dekker tersenyum melihat tontonan nanti malam. Terlebih jika timnas Indonesia bisa meluluhlantakkan timnas Australia di kandangnya sendiri.

Topik: piala dunia 2026sepakbolatimnas Australiatimnas Indonesia
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Trouble in Paradise: Krisis Lingkungan di Pulau Dewata

Selanjutnya

Membentuk Demokrasi Indonesia: Kebangkitan Kaum Muda di Tengah #IndonesiaGelap

Cak Jipiti

Cak Jipiti

Sohib kecil para Sultan di Planet Bumi, pernah tinggal lama di Negeri Konoha.

TULISAN TERKAIT

16 Tahun Renebook: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

16 Tahun Rene Turos: Berkah, Keringat, dan Cita-Cita

23 Oktober 2026
MBG: Membaca Buku Gratis

MBG: Membaca Buku Gratis

12 Oktober 2026
al-qanun

AL-QANUN FI AL-THIBB: Kitab Kuning Kedokteran yang Fenomenal

17 Juni 2026
wakaf literasi

WAKAF LITERASI: Solusi Impian Hadapi Pembajakan Buku

10 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Membentuk Demokrasi Indonesia: Kebangkitan Kaum Muda di Tengah #IndonesiaGelap

Membentuk Demokrasi Indonesia: Kebangkitan Kaum Muda di Tengah #IndonesiaGelap

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

penerbit rene turos

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

20 Oktober 2026
Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

17 Oktober 2026
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In