Guys, udah tahu belum kalau batik itu umurnya lebih tua dari bangsa Indonesia? Yup, batik ini sudah dipakai nenek moyang kita sebelum Indonesia merdeka, loh!
Awalnya kain batik cuma dipakai di kalangan Keraton Jawa dalam acara-acara sakral. Batik dibuat dari canting yang berfungsi untuk nyantumin lilin panas ke kain dengan pola yang artistik banget. Batik awal dibuat dengan motif sederhana, lalu berkembang menjadi sesuatu yang lebih kompleks, filosofis, dan penuh corak.
Di Indonesia, jenis batik tuh banyak banget. Hampir tiap daerah punya batik khas, dan masing-masing punya makna yang mendalam. Misalnya, Batik Parang yang melambangkan semangat perjuangan dan Batik Mega Mendung sebagai simbol kedamaian.
Generasi sebelumnya memandang batik sebagai simbol kehormatan yang harus dihormati. Makanya, hampir di setiap pertemuan resmi, Presiden dan pejabat negara pakai batik. Enggak hanya oleh pejabat negara di dalam negeri, beberapa petinggi negara lainnya pun ikutan pakai batik saat berkunjung ke Indonesia, kayak Nelson Mandela dan Elon Musk.
Atas semangat nasionalisme dan supaya kelihatan cinta Indonesia banget, batik juga dipakai sebagai seragam resmi di berbagai perkantoran, sekolah, sampai rumah makan. Coba aja ke rumah makan Padang, rata-rata mereka punya seragam batik, kan?
Dulu, generasi muda sempat merasa malu dan enggak percaya diri memakai batik. Karena imej batik saat itu masih terkesan “tua”, enggak banyak pilihan motif, warna, dan model.
Beda dengan anak muda sekarang, terutama Gen Z dan Milenial, yang melihat batik dengan cara yang lebih seru. Batik bukan hanya untuk acara formal, tapi udah jadi fesyen yang kece dan bisa dipakai sehari-hari, dari hangout bareng teman, ke kampus, juga ke mal.
Menurut data, sekitar 65% anak muda di Indonesia udah memakai batik sebagai bagian dari gaya mereka, terutama saat berkumpul atau berpartisipasi dalam acara budaya. Tren pemakaian batik di kalangan anak muda sekarang pun jadi lebih menarik. Mereka mix and match kemeja batik dengan jeans atau jogger pants, pakai jaket batik dan sneacker, atau dress batik yang dipadukan dengan aksesoris (gelang, kalung, dan bando) dari kain batik. 
Aku sendiri termasuk yang suka mix and match batik dengan jeans, bando atau topi batik, tas, plus gelang batik. Beberapa hari lalu, di acara bedah buku “Hijrah Berkali-Kali ala Denny JA”, di Kampus UNHAS Makassar misalnya, aku menggunakan batik lurik sebagai luaran dipadukan dengan jeans dan sneacker. Setiap berkesempatan ke daerah, biasanya jenis-jenis batik akan menjadi incaranku.
Salah satu temen Gen Z di Instagram, terlihat suka memposting kegiatan bareng teman-temannya pakai kain sebagai bawahan, yang dipadukan dengan sepatu kets dan baju kaos. Menariknya, mereka adalah laki-laki tapi berani mendobrak bias tentang imej menggunakan kain, yang biasanya diidentikkan dengan perempuan.
Bukan hanya pengguna, anak-anak muda sekarang malah membentuk komunitas untuk mengangkat batik ke level yang lebih tinggi. Misalnya, “Batik Reborn” di Jakarta yang diperjuangkan oleh Tia dan Rudi. Mereka aktif banget mengedukasi generasi milenial tentang batik melalui workshop dan fashion show.
Dengan mindset nasionalisme yang baru, kreativitas dan inovasi, batik terus eksis dan jadi tren yang lebih fresh di kalangan anak muda. Dengan caranya, anak muda telah memperluas makna nasionalisme dan mencoba meyakinkan kita untuk bangga dengan warisan budaya lokal , sambil tetap tampil stylist dan kekinian.
Selamat Hari Batik Nasional ya guys…
Bacaan terkait
Generasi Muda dan Krisis Iklim: Kami yang Cemas dan Marah











