Jumat, 3 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Mengintip Cara Otak Berkalibrasi Saat Tidur

Oleh Mujib Rahman
13 November 2021
di Resensi
A A
Apa Yang Terjadi Saat Tidur, Manfaat Tidur, Penelitian Manfaat Tidur, Buku Why We Sleep: Mengapa Kita Tidur, Matthew Walker Ph. D, penerbit Gramedia Pustaka Utama, Diresensi oleh Jakarta Book Review

Buku Why We Sleep: Mengapa Kita Tidur, Matthew Walker Ph. D, penerbit Gramedia Pustaka Utama, Diresensi oleh Jakarta Book Review

Soal tidur terdengar cukup sepele untuk dijadikan tema buku, apalagi dibahas hingga 500 halaman. Tetapi tulisan Matthew Walker menawarkan perspektif menarik dan mendalam tentang aktifitas yang suka diidentikkan dengan kemalasan ini.

Walker adalah profesor ilmu neurologi dan psikologi di Universitas Berkeley yang kini menjabat sebagai direktur University of California Barkeley Sleep and Neuroimaging Laboratorium. Berdasarkan hasil riset dan penelitian yang panjang, ia menyimpulkan, tidur adalah aktifitas kalibrasi ekstensif dan pemulihan memori pada otak secara alamiah. Maka dari itu eksistensi, kualitas, dan kuatitasnya memiliki implikasi signifikan pada tubuh manusia dalam jangka pendek maupun panjang.

Semua orang tahu, tidur adalah mekanisme tubuh mengistirahatkan diri. Namun tak banyak yang paham betapa rumitnya mekanisme yang terjadi saat itu.

Setia makhluk hidup memiliki siklus harian 24 jam yang sama, tetapi memiliki kinerja tidur berbeda beda. Manusia membutuhkan waktu lelap 7-9 jam sehari. Gajah, meskipun besar, hanya membutuhkan separuh waktu tidur manusia. Macan dan singa perlu 15 jam waktu tidur per hari, sedangkan kelelawar coklat menjadi yang terlama, 19 jam tidur per hari.

Pusat kalibrasi otak manusia ada di bagian nucleus suprachiasmatic. Di sinilah dilakukan scanning terstruktur yang mengkonsolidasikan penempatan file-file yang direkam sebelumnya ke dalam bagian-bagian penyimpanan yang rapi.

BACA JUGA:

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Tidur yang cukup meningkatkan kemampuan itu, serta mengerek performa belajar, menghafal, membuat keputusan logis, dan menajamkan ingatan. Dalam tidur otak memprogram kembali sistem kekebalan, metabolisme, hingga mengatur nafsu makan.

Tidur yang lelap (deep sleep) dalam jumlah cukup dapat meminimalisir risiko penyakit berbahaya seperti demensia, diabetes, serangan jantung, stroke, bahkan kanker.

Dalam tidur biasanya ada mimpi. Hal itu berfungsi memastikan fungsi-fungsi saraf dan otak bekerja dengan baik sembari menciptakan ruang realitas maya. Di ruang itu otak menggabungkan pengetahuan masa lalu dan masa kini untuk menunjang kreativitas.

Manusia tak memiliki kontrol pada otaknya saat tidur, tetapi uniknya di sana terdapat potensi problem solving. Banyak tokoh hebat dunia mendapatkan inspirasi ketika tidur atau bermimpi. Salah satunya Thomas Alva Edison, penemu listrik.

Eksperimen Manusia

Matthew Walker memiliki jam terbang lama melakukan berbagai penelitian dan eksperimen. Salah satunya adalah percobaan dengan sejumlah orang dewasa sehat dan berapasitas otak baik.

Sejumlah relawan itu dibagi dalam dua kelompok yang sama-sama diberi sesi pembelajaran ketat, yaitu permainan mencocokkan 100 nama dengan 100 foto. Aktifitas ini diasumsikan dapat membebani bagian otak yang memproses memori spasial.

Siang hari, setelah sesi berakhir, kedua kelompok itu dites. Hasilnya imbang, kedua grup menunjukkan kinerja yang sama baik. Setelah itu satu kelompok diberikan tidur 90 menit, dan kelompok lainnya dibolehkan istirahat selain tidur.

Pada pukul 6 sore, kedua grup ini diberikan sesi belajar lanjutan. Kedua pihak tampak memiliki daya konsentrasi yang sama stabil, dibuktikan dengan uji atensi dan uji respon. Namun setelah diuji hafalan, kelompok tidur 90 menit terbukti dapat memperbaiki pemrosesan dalam memori dengan porsi 20 persen lebih baik. Disimpulkan, saat tidur terjadi mekanisme “transfer file”, dari penyimpanan sementara ke penyimpanan jangka panjang.

Ternyata tidur bukanlah perjalanan datar, grafiknya naik turun. Secara umum ada dua fase tidur, yaitu REM (Rapid Eye Movement) dan NREM (Non Rapid Eye Movement). Fase REM, yaitu ketika orang mulai tidur, mata bagian dalam masih bergerak dan di dalam otak terjadi gelombang tidak sinkron, bahkan kacau.

Tahap selanjutnya adalah fase nyenyak atau deep sleep yang secara medik disebut NREM (dibagi dalam fase 1 sampai 4). Di sana bagian otak yang bernama hipokampus menghubungkan berbagai informasi yang terjaring pada hari itu dan memindahkannya ke memori penyimpanan mendalam.

Penyebab Gangguan Tidur

Kualitas tidur yang baik seharusnya dapat dimiliki setiap orang, apabila tidak memiliki masalah kesehatan atau traumatik tertentu. Waktu pencapaian tidur berkaitan erat dengan hormon penyebab tidur, yaitu melatonin. Biasanya kadar hormon ini meningkat ketika gelap, sehingga disarankan mematikan lampu ketika mulai tidur.

Namun terdapat aspek-aspek eksternal yang dapat mendegradasi kualitas tidur, seperti alkohol.

Waspadai pula penggunaan gawai sebelum tidur karena cahaya yang bersumber dari gawai dapat menurunkan kadar hormon melatonin sampai 50 persen. Dengan fakta-fakta ini, janganlah begadang kalau tiada artinya.

Judul : Why We Sleep: Mengapa Kita Tidur

Penulis : Matthew Walker Ph. D

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Genre : Sains

Tebal : 500 Halaman

Edisi : Cetakan ke-2, Maret 2021

ISBN : 978-602-06-3861-4

Diresensi oleh Jakarta Book Review

Topik: Headline
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Memahami Hubungan Emosi yang Rumit Antara Manusia Dengan Uang

Selanjutnya

BPIP Telah Usulkan 15 Buku Pelajaran Pancasila ke Presiden

Mujib Rahman

Mujib Rahman

Wartawan Senior

TULISAN TERKAIT

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
BPIP Telah Usulkan 15 Buku Pelajaran Pancasila ke Presiden

BPIP Telah Usulkan 15 Buku Pelajaran Pancasila ke Presiden

Ulasan Pembaca 1

  1. Avatar Andre says:
    4 tahun yang lalu

    Izin meralat soal penemu listrik bang. Harusnya Benjamin Franklin. CMIIW

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In