YOGYAKARTA—Kemiskinan tidak selalu berakar pada kegagalan individu. Struktur sosial, ketimpangan ekonomi, dan kebijakan negara juga dapat memengaruhi kemampuan masyarakat keluar dari kemiskinan sekaligus membentuk relasinya dengan kekuasaan.
Persoalan itu menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi buku Panduan Melawan Tirani bersama Media Wahyudi Askar, dosen Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), di Mojok Store, Yogyakarta, Minggu (23/8/2026).
Dalam diskusi tersebut, Media membedah pemikiran Abdurrahman al-Kawakibi tentang tirani, kekuasaan, dan masyarakat, kemudian mengaitkannya dengan sejumlah persoalan di Indonesia, mulai dari kemiskinan struktural, ketimpangan, bantuan sosial, hingga ketergantungan masyarakat terhadap negara.
Diskusi merupakan bagian dari Jakal Bookshop Festival 2026. Turos Pustaka, penerbit Panduan Melawan Tirani: Bagaimana Islam Memandu Kita Menumbangkan Kediktatoran, turut mendukung kegiatan dengan membantu Mojok Store menghadirkan Media sebagai narasumber.
Tirani Bukan Hanya Persoalan Penguasa
Dalam Panduan Melawan Tirani, al-Kawakibi membahas bagaimana kekuasaan yang tidak terkendali dapat tumbuh dan bertahan di tengah masyarakat.
Menurut pemikiran al-Kawakibi, tirani bukan semata-mata persoalan penguasa yang bertindak sewenang-wenang. Agama, pendidikan, pengetahuan, ekonomi, serta kondisi sosial masyarakat juga dapat memengaruhi hubungan antara masyarakat dan kekuasaan.
Buku tersebut, karena itu, tidak berhenti pada persoalan siapa yang memegang kekuasaan. Al-Kawakibi juga menaruh perhatian pada kondisi yang memungkinkan kekuasaan menjadi semakin sulit dikendalikan dan masyarakat terus hidup di bawahnya.
Media membawa gagasan tersebut ke dalam konteks Indonesia. Ia mengaitkannya dengan persoalan kemiskinan struktural, ketimpangan ekonomi, serta hubungan masyarakat dengan negara.
Selain membahas substansi buku, Media juga menyoroti penerjemahan karya al-Kawakibi ke dalam bahasa Indonesia. Ia menanyakan proses penerjemahan, waktu pengerjaan, hingga pemilihan sejumlah istilah agar gagasan dalam karya tersebut dapat dipahami pembaca Indonesia tanpa kehilangan konteks aslinya.
Kemiskinan dan Ketergantungan terhadap Negara
Pembahasan mengenai kemiskinan muncul dalam sesi tanya jawab ketika Liya Fahmi, seorang psikolog yang hadir sebagai peserta, mempertanyakan mengapa sebagian masyarakat belum melihat kemiskinan sebagai persoalan yang juga berkaitan dengan struktur sosial dan ekonomi.
Pertanyaan itu berangkat dari pengalamannya menangani klien yang menghadapi persoalan ekonomi. Di sisi lain, pemerintah telah menyediakan berbagai bentuk perlindungan sosial, termasuk jaminan kesehatan melalui BPJS.
Pertanyaan tersebut membawa diskusi pada hubungan antara kemiskinan, kebijakan negara, dan ketergantungan masyarakat terhadap kekuasaan.
Media menjelaskan persoalan kemiskinan perlu dilihat lebih luas daripada sekadar kemampuan atau pilihan individu. Menurut pembahasan yang berkembang dalam diskusi, bantuan pemerintah dapat meringankan beban masyarakat, tetapi belum tentu menyelesaikan faktor struktural yang membuat seseorang terus berada dalam kondisi miskin.
Media juga menyinggung redistribusi kekayaan kepada kelompok miskin sebagai salah satu pendekatan yang dapat dibicarakan dalam upaya mengurangi ketimpangan.
Pembahasan itu memperluas cara membaca kekuasaan dalam Panduan Melawan Tirani. Kekuasaan tidak hanya berkaitan dengan keputusan politik atau tindakan seorang pemimpin, tetapi juga bersinggungan dengan distribusi sumber daya dan hubungan ekonomi antara masyarakat dan negara.
Mengapa Tirani Bisa Bertahan?
Al-Kawakibi melihat tirani bukan sebagai keadaan yang muncul secara tiba-tiba. Kekuasaan despotik dapat berkembang ketika kontrol terhadap penguasa melemah, sementara kondisi sosial tertentu membuat masyarakat kesulitan mengimbanginya.
Dalam kerangka tersebut, Panduan Melawan Tirani tidak hanya membahas karakter penguasa, tetapi juga hubungan antara kekuasaan dengan pengetahuan, agama, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.
Pembahasan kemudian mengarah pada pertanyaan mengenai sikap masyarakat ketika berhadapan dengan tokoh atau kekuasaan yang dinilai merusak.
Media kembali merujuk pada al-Kawakibi, “Jika tokoh itu dibenci masyarakat, jauhi sejauh-jauhnya. Hal yang sama juga selalu saya lakukan dan kami sampaikan ke teman-teman, kita harus menjauhi mereka yang betul-betul sudah pasti merusak negara. Kan gampang mendeteksinya,” ujar Media.
Pernyataan tersebut membawa diskusi pada persoalan legitimasi dan posisi masyarakat terhadap kekuasaan.
Dalam pembahasan yang berkembang, kekuasaan tidak hanya ditopang oleh jabatan formal, tetapi juga oleh penerimaan masyarakat, jaringan sosial, dukungan kelompok, dan perhatian publik. Karena itu, sikap masyarakat terhadap kekuasaan turut menjadi bagian penting dalam membaca bagaimana sebuah kekuasaan dapat bertahan.
Diskusi juga menyinggung pentingnya pengetahuan dalam membentuk sikap kritis. Penilaian terhadap seorang tokoh maupun kekuasaan perlu didasarkan pada informasi dan argumentasi yang dapat diuji, bukan semata-mata pada sentimen.
Membawa Al-Kawakibi ke Konteks Indonesia
Abdurrahman al-Kawakibi (1854–1902) dikenal sebagai pemikir dan reformis Islam yang banyak menulis tentang despotisme dan persoalan kekuasaan. Dalam diskusi di Mojok Store, pemikirannya dipertemukan dengan sejumlah persoalan kontemporer di Indonesia, mulai dari kemiskinan struktural, ketimpangan, perlindungan sosial, hubungan masyarakat dengan negara, hingga batas-batas kekuasaan.
Pembahasan tersebut menempatkan Panduan Melawan Tirani bukan hanya sebagai karya pemikiran politik Islam dari masa lalu, tetapi juga sebagai bahan untuk membaca hubungan masyarakat dan kekuasaan pada masa kini.
Diskusi berlangsung selama sekitar 135 menit, mulai pukul 19.45 hingga 22.00 WIB, dan diikuti sekitar 25 peserta. Peserta mengikuti pembahasan hingga akhir serta terlibat dalam sesi tanya jawab bersama narasumber.
Turos Pustaka Dorong Buku Menjadi Ruang Diskusi
Sebagai penerbit Panduan Melawan Tirani, Turos Pustaka mendorong agar gagasan dalam buku tidak berhenti setelah dibaca, tetapi terus dipertemukan dengan pembaca melalui diskusi dan ruang-ruang publik.
Keterlibatan Turos Pustaka dalam menghadirkan Media Wahyudi Askar menjadi bagian dari upaya tersebut. Perspektif akademik diharapkan dapat membuka pembacaan yang lebih luas terhadap pemikiran al-Kawakibi dan relevansinya dengan persoalan masyarakat saat ini.
“Bagi kami, buku yang baik bukan hanya buku yang selesai dibaca, tetapi buku yang mendorong pembacanya melakukan aksi,” ujar Manajer Redaksi Turos Pustaka, M Farobi Afandi.
Melalui penerbitan Panduan Melawan Tirani, Turos Pustaka berupaya memperkenalkan kembali pemikiran al-Kawakibi kepada pembaca Indonesia sekaligus membuka percakapan mengenai kekuasaan, masyarakat, ketimpangan, dan pentingnya sikap kritis.
Diskusi bersama Media Wahyudi Askar menjadi salah satu upaya memperpanjang percakapan tersebut dari teks buku ke ruang publik.
Bagian dari Jakal Bookshop Festival 2026
Diskusi Panduan Melawan Tirani merupakan bagian dari Jakal Bookshop Festival 2026 yang berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di kawasan Jalan Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Festival tersebut melibatkan 14 toko buku dan satu pameran buku dalam rangkaian Jakal Design Week 2026.
Berbeda dengan pameran buku yang berpusat di satu lokasi, Jakal Bookshop Festival menghadirkan kegiatan di berbagai toko buku yang terlibat. Pengunjung dapat berpindah dari satu ruang ke ruang lain untuk mengikuti diskusi, bincang-bincang, pertunjukan musik, dan sejumlah kegiatan lainnya.
Melalui format tersebut, toko buku tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga ruang pertemuan antara pembaca, penulis, penerbit, komunitas, dan gagasan. Diskusi Panduan Melawan Tirani di Mojok Store menjadi bagian dari rangkaian tersebut dengan mempertemukan buku dan pembaca melalui percakapan publik.






