Kamis, 22 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Hidup Penuh Kasih Sayang untuk Kebahagiaan Diri

Oleh Yeti Kartikasari
18 November 2022
di Resensi
A A
Gambar: Fimela

Gambar: Fimela

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi itu bukan alasan bagi kita menghindari cinta kepada dunia. Kepada sesama manusia. Bahkan kepada diri sendiri. Haemin Sunim menulis pengalaman dan kisah pribadinya. Dia selama bertahun-tahun membantu sesama untuk mengajarkan bagaimana merawat diri sendiri .

Melalui Love for Imperfect Things, guru Buddhis ini mengajak kita memperlakukan diri sendiri dengan penuh kasih sayang, empati, dan pengampunan. Kita juga belajar memperlakukan orang lain dengan cara yang sama; membuat hubungan-hubungan lebih dalam dengan orang lain, bangun dari keterpurukan, menghadapi rasa sakit dan sedih, mendengarkan lebih saksama, mengekspresikan diri, dan memiliki keberanian mengejar hal membahagiakan diri sehingga merasa lengkap.

Buku setebal 295 halaman ini dibagi dalam delapan bab yang komprehensif. Tidak hanya fokus pada diri sendiri dan keluarga, tapi juga tentang penyembuhan, pencerahan dan penerimaan. Tiap bab terdapat dua kisah yang lembut dan humanis.

Haemin Sunim yang memiliki lebih dari sejuta pengikut di Twitter @haeminsunim ini mengingatkan pembaca untuk berbuat baik kepada diri sendiri dulu, baru kepada orang lain. Penulis pernah mengalami betapa “tak enaknya” ketika menjadi orang baik saat kuliah pascasarjana. Ia yang saat kecil seorang introvert dan pemalu dan dipuji karena menjadi anak baik, sering mengerjakan tugas yang tidak ingin dikerjakan oleh kawan-kawannya. Lama kelamaan, dia merasa stres sendiri.

Membuka hati

Penulis yang lulusan UC Berkeley, Harvard dan Princeton ini juga mengajak pembaca untuk membuka hati. Juga bicara jujur kepada orang lain tentang apa yang dirasakan.

BACA JUGA:

Dari Penjara Menuju Lumbung Negara: Refleksi Kebijakan Publik atas “Strategi Fiskal Nabi Yusuf”

Kitab Nahwul Qulub: Asupan Gizi Tambahan Untuk Nalar Para Santri

Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

Supaya tidak terjadi masalah psikologis. Sama seperti genangan air yang bisa berbau busuk dan beracun, seperti itu pula emosi kita.

Dengan lembut, buku ini juga membahas kekuatan pelukan. Mungkin kita pernah dengar, setiap kali seseorang memeluk, umur kita akan bertambah satu hari. Memang, tidak ada yang bisa membuktikan kebenarannya. Tapi kita semua pasti paham apa artinya.

Ya, ketika kita menghadapi hal-hal yang begitu sulit, pelukan tanpa kata-kata bisa memiliki kekuatan. Itu menyembuhkan yang lebih besar daripada penjelasan logis dan runut kenapa keadaan bisa menjadi sulit.

Haemin Sunim juga membagikan pengalamannya ketika tinggal di Amerika. Ia harus belajar bagaimana saat berjabatan tangan tidak hanya sekadar menggenggam tangan orang lain. Tapi harus dilakukan seraya tersenyum, menatap satu sama lain. Kemudian memastikan genggaman tangan kita tidak terlalu kuat atau terlalu lemah. Nah, dari sekian banyak cara menyapa seseorang, penulis membutuhkan waktu paling lama untuk terbiasa dengan pelukan.

Menariknya, buku yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris ini dilengkapi ilustrasi cantik yang menentramkan. Serta kata-kata mutiara yang filosofis dan indah layaknya puisi. Seperti ;

Hal sederhana mengenggam tangan seseorang bisa berdampak besar dalam meringankan rasa sakitnya, Semakin besar rasa sakit kita, semakin besar cinta dan dukungan keluarga yang kita butuhkan. (hal.50).

Untuk anggota keluarga dan teman-teman yang mengalami kegagalan, katakanlah, ”Walau kau masih belum berhasil sekarang, aku bangga sekali kepadamu. Di bawah situasi yang sulit, kau tidak menyerah. Dan itu, menurutku, merupakan keberhasilan.” (hal.89).

Buku ini mengajak pembaca berfikir sekaligus berefleksi bahwa hidup ini memang sulit bukan karena masa lalu yang menahan kita, melainkan karena kita terus memikirkan masa lalu dan menetap di sana.

Penulis meyakinkan pembaca bahwa usaha kita, sekecil apa pun, tidak akan pernah sia-sia. Bahkan badai terdashyat pun akan reda, tentu saja selama kita bertahan dan pantang menyerah, kita akan bisa melihat matahari bersinar lagi. (*)

Judul : Love for Imperfect Things
Penulis Buku : Haemin Sunim
Tebal : 295 halaman
Penerbit : POP, imprint KPG
Cetakan : Keempat, Juni 2021
ISBN : 978-602-481-430-4

Topik: @haeminsunimcintaHaemin SunimHeadlineLove for Imperfect Thingstidak sempurna
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Ini Dia Buku Best Seller di Tokopedia Sepekan Terakhir

Selanjutnya

Karena Setiap Langkahmu Adalah Rinduku

Yeti Kartikasari

Yeti Kartikasari

Saya seorang part time traveler, penulis lepas dan guru jurnalistik. Hobi menulis, membaca dan fotografi.     

TULISAN TERKAIT

nabi yusuf

Dari Penjara Menuju Lumbung Negara: Refleksi Kebijakan Publik atas “Strategi Fiskal Nabi Yusuf”

2 Oktober 2026
nahwul qulub tata bahasa ruhani

Kitab Nahwul Qulub: Asupan Gizi Tambahan Untuk Nalar Para Santri

30 September 2026
Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

7 September 2026
menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Karena Setiap Langkahmu Adalah Rinduku

Karena Setiap Langkahmu Adalah Rinduku

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

penerbit rene turos

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

20 Oktober 2026
Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

17 Oktober 2026
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In