Sekitar 1,5 tahun lalu, saya dihubungi oleh seorang sahabat baik, Ibu Dr. Amanda Katili, yang saya kenal baik beratus purnama yang lalu. Berbeda dengan saya yang suka mengaku ahli, walau enggak pintar-pintar amat, beliau ini beneran adalah pakar perubahan iklim, komunikasi, budaya, dan kuliner, yang tingkat kepakarannya 11-12 dengan Al Gore dan para ahli kuliner internasional.
Singkat kata, Bu Amanda bercerita tentang idenya membuat sebuah buku makanan atau gastronomi, yang isinya berupa bunga rampai pengalaman pribadi penulisnya. Saya, dan teman-teman lain, diminta untuk menulis tentang makanan kesukaan kami yang menjadi “comfort food”, atau makanan yang membuat mood lebih baik.
Comfort food sendiri bisa diartikan sebagai makanan kenangan, yang bagi tiap orang sangat personal. Makanan inilah yang akan membangkitkan lagi kenangan-kenangan, baik manis, asam, maupun getir, dari masa lalu, yang pada akhirnya akan membuat perasaan lebih baik.
Ajakan dari Bu Amanda ini langsung saya iyakan, saya mungkin salah satu yang paling semangat untuk ikut terlibat!
Bu Amanda dan saya sendiri sudah berkali-kali bekerja sama dalam penulisan buku. Buku dari zaman kami masih sama-sama di DNPI (Dewan Nasional Perubahan Iklim), buku puisi, bunga rampai foto di zaman pandemi, dan beberapa yang lain. Tapi tetap saja buku tentang comfort food adalah satu tantangan yang pantang saya lewatkan.
Saya tahu Bu Amanda sebagai editor juga menghubungi beberapa teman yang hobi kuliner dan menulis. Tak kurang dari Pak Wakil Menteri KLHK Alue Dohong, Mbak Diah Y. Suradiredja, Swary Utami Dewi, Arifah Handayani, Om Erros Djarot, dan beberapa duta besar akan dilibatkan.
Proyek yang sangat menarik, karena saking semangatnya saya bahkan mengajukan 2 artikel ke Bu Amanda sebagai bahan buku. Kedua artikel ini akhirnya diterima, dan akhirnya hanya saya dan Pak Alue Dohong saja yang menjadi penulis 2 artikel, masing-masing teman yang lain hanya 1 artikel.
Format dari buku kuliner ini sangat menarik, karena setiap penulis harus menulis artikel tentang pengalaman pribadinya terhadap makanan yang ditulis, menuliskan resepnya, dan juga menyertakan foto pribadi makanan tersebut. Ini konsep yang sangat orisinal dan jenius, yang hanya bisa lahir dari pakar kuliner, penulis jempolan, dan ahli komunikasi kelas internasional seperti Bu Amanda.
Proses penulisannya sendiri juga sangat personal. Bagi tiap penulis, ini adalah ziarah kenangan dan memori, yang kadang juga membuat senyum, tawa, jengkel, dan juga tangis.
Saya sendiri saat menulis tentang bakso (Bakso di Jiwaku, Kuah Bakso di Darahku) dan rujak cingur (Tradisi Rujakan dan Evolusi Rujak Cingur), mengalami “memory shock” yang lumayan parah.
Saya teringat lagi waktu menabung uang saku hanya untuk beli bakso Pak Nan. Aroma dan rasa bakso ala Ibu yang hanya berupa potongan kecil daging dengan banyak kuah, juga zaman antri beli rujak cingur tanpa cingur di warung Bude Timah.
Salah satu teman, Mbak Diah, bahkan bercerita tadi, beliau menulis artikel sambil menangis karena sangat personal.
Dan artikel dari puluhan penulis itu dikurasi dan disunting menjadi buku luar biasa, berjudul Comfort Food Memoirs: Kisah Makanan yang Menenangkan Beserta Resepnya hasil kerja sama antara Omar Niode Foundation dan Penerbit Diomedia.
Buku ini tak lain adalah pengalaman pribadi puluhan orang dengan berbagai macam masakan dan makanan.
Lebih hebat lagi buku ini akhirnya dipilih sebagai Best Book in the World oleh Gourmand World Cookbook Awards! Alhamdulillah… puji syukur hanya kepada Sang Maha Pemilik Hendak.
Dan sore tadi, kami mengadakan semacam peringatan dan syukuran, berupa bedah buku, di kantor Om Erros Djarot. Sangat senang, bahagia, dan bangga menjadi bagian dari buku ini. Dan hari ini saya juga diminta beberapa teman untuk menandatangani buku mereka.
Nikmat yang mana lagi yang akan engkau dustakan, Dicky?
LRT Setiabudi–Harjamukti, 23 Mei 2024









Ulasan Pembaca 1