Rabu, 1 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

The Industries Of The Future

Oleh Siti Khotijah
27 Desember 2021
di Nukilan
A A
The Industries Of The Future

The Industries Of The Future (Foto: Istimewa)

KETIKA SAYA DIBESARKAN, uang adalah sesuatu yang kita simpan dalam dompet. Membeli sesuatu berarti pergi ke toko, berbicara dengan kasir, mengeluarkan dompet, dan membayar tagihan. Saya masih ingat dompet kulit warna cokelat yang sudah usang milik ayah saya. Sekalipun masih kecil, saya paham pentingnya benda ini. Mengeluarkan dompet berarti ayah saya akan membayar makan malam atau memberi saya hadiah. Ukuran dompet menentukan keadaan masing-masing minggu dan hari. Ketika kami pergi liburan, dompet itu tebal dengan berbagai kemungkinan. Jika dompet sudah tipis, maka sudah waktunya kami harus pulang.

Sejak lama, uang adalah entitas fisik, sesuatu yang bisa dipegang dan memiliki berat. Banyak mata uang dunia yang namanya merefleksikan pandangan bahwa wang adalah sesuatu yang bersifat duniawi. “Peso” Filipina, “shekel” Israel, dan “pound” Inggris, semuanya berasal dari kata yang berarti bobot. “Rubel” berasal dari kata kuno Rusia: rubiti—“memotong, menggunting, menebang”—karena mata uang metalik orisinalnya berbentuk perak batangan, yang kemudian dipotong menjadi sejumlah yang dibutuhkan. Contoh yang lebih jelas bisa dilihat dalam salah satu adegan film Goodfellas. Di sana, istri gangster Henry Hill, dimainkan oleh Lorraine Bracco, meminta uang untuk berbelanja. Ia menanyakan jumlah yang dibutuhkan. Sang istri; meregangkan jari telunjuk dan ibu jari beberapa senti dap berkata, “Segini,” lalu Henry memberikan segepok uang.

Namun, dalam separuh abad terakhir, sistem finansial modern mendesain sejumlah kepraktisan yang memungkinkan kita bergeser dari uang fisik. Seperti banyak orang dewasa lainnya, ketika duduk di perguruan tinggi, saya mendapatkan kartu kredit untuk pertama kali. Ketika mulai bepergian, saya membawa cek perjalanan. ATM—yang ditemukan akhir 1960-an, tetapi baru populer pada tahun 1980-an, memungkinkan kita untuk mengakses uang tanpa melalui teller bank. Yang dibutuhkan hanyalah kartu ATM dan nomor pin. Sejak saat itu, seperti halnya robotik dan ilmu alam, perubahan muncul dengan cepat.

Perbankan daring mulai meluncur pada pertengahan hingga akhir 1990-an. Layanan pembayaran daring PayPal dibentuk pada tahun 1999. Sekarang perbankan digital menjadi nyaris universal di perekonomian yang maju, sebagaimana perbankan mobile dengan kehadiran ponsel di mana-mana. Lebih dari separuh orang dewasa Amerika menggunakan perbankan mobile, dan secara keseluruhan jumlahnya lebih dari setengah miliar orang. Pada 2017, jumlah itu melonjak menjadi 1 miliar. Untuk para pelanggan ini, ponsel menghilangkan kebutuhan akan ATM, sama seperti ATM menghilangkan kebutuhan akan teller bank. Sekarang, telepon adalah bank. Saya menjadi jengkel ketika harus membongkar laci lemari untuk menemukan buku cek dan menulisnya ala abad ke-20.

Ketika saya dibesarkan, orang kaya adalah orang yang memiliki uang bertumpuk-tumpuk dan dompet tebal. Kini, mayoritas orang kaya—dan semakin banyak lagi yang lainnya—tak berdompet, atau mereka menggunakan dompet virtual. Kendati genom kita didekode dalam 20 tahun ke depan, uang kita akan dikodekan—dipecah menjadi 1 dan 0, dan dibungkus dengan alat canggih untuk proses enkripsi. Kita masih berada di awal penemuan berbagai kemungkinan yang akan menghadirkan mata uang digital. Namun, kode-ifikasi uang, pasar, pembayaran, dan kepercayaan adalah titik perubahan selanjutnya dalam sejarah jasa keuangan. Penting untuk memahami maknanya bagi Anda dan bisnis Anda, terlepas apakah Anda adalah petugas reparasi pipa air atau CEO perusahaan Fortune 500.

BACA JUGA:

5 Alasan Kenapa The E-Myth Revisited Harus Kamu Baca Sebelum Bisnismu Diam-Diam Runtuh!

Ingin Bisnis Jalan Sendiri, Kamu Bisa Liburan Tanpa Cemas? Temukan Rahasianya di Buku The E-Myth Revisited

The Power Of Azan

The Culture Code

Uang Berkode, Square

Demi memahami dampak uang berkode (coded money), saya berbincang dengan Jack Dorsey. Di usianya yang ke39, Jack adalah seorang pengusaha sukses. Ia salah satu pendiri Twitter, perusahaan yang merevolusi komunikasi. Selagi masih mengepalai Twitter, ia ikut mendirikan perusahaan kedua, Square, yang bertujuan untuk merevolusi cara kita menggunakan uang. Jack, CEO Square dan CEO Twitter saat buku ini ditulis, adalah seorang visioner sejati. Ia benar-benar mendalami tren-tren mutakhir dan ide dunia teknologi yang paling ambisius. Meski begitu, ia tetap berkepribadian missourian yang ramah dan lembut dalam berbicara. Kami bertemu di kantor Square yang baru, di Mid-Market San Francisco. Jack dengan sigap masuk ke pemikiran di balik berdirinya Square dan targetnya untuk masa depan bisnis.

Menyangkut Square, pandangan awal Jack adalah Menginvestasikan cara untuk melakukan pembayaran Sehari-hari dengan menggunakan perangkat yang semakin

berharga ketimbang dompet, yaitu ponsel kita. Setiap pagi sebelum saya keluar rumah, saya menepuk saku celana untuk memastikan tiga benda penting yang saya butuhkan seharian tidak tertinggal. Dompet berada di saku kiri belakang. Kunci di saku depan kanan. Sedangkan saku depan kiri adalah tempat ponsel. Jack ingin membuat kita tidak perlu membawa dompet.

Square memungkinkan pelanggan untuk membayar (dan pedagang untuk berjualan) melalui telepon atau komputer tablet. Gelombang pertama melibatkan peranti kotak kecil warna putih yang bisa dimasukkan ke dalam telepon untuk memproses pembayaran kartu kredit. Gesekkan kartu melalui reader di kotak. Dengan produk Square yang baru, kita bahkan tidak perlu lagi memasukkan kotak. Yang harus dilakukan hanyalah mengeluarkan ponsel untuk dipindai oleh kasir. Tidak perlu membuka dompet. Banyak perusahaan ternama yang mengadopsi teknologi ini guna mengurangi waktu tunggu pelanggan. Masuklah ke Starbucks dan Anda akan menyaksikan satu per satu penikmat kopi menggunakan Square untuk masuk, keluar, dan menyesap kafeina dengan lebih cepat.

Inspirasi hadirnya Square lahir dari transaksi yang gagal. Jim McKelvey, mitra Jack dalam mendirikan Square, adalah seorang pengusaha dan pengrajin kaca. Di antara proyek-proyek lain—menulis buku tentang program komputer, bekerja di IBM, merintis perusahaan penerbitan digital—-McKelvey mendirikan perusahaan butik kerajinan kaca. Perusahaan ini memproduksi teko kaca kaliber dunia: Namun, itu tetap membuat Jim kehilangan penjualan senilai 2.000 dolar lantaran ia tidak memiliki teknologi untuk menerima kartu kredit American Express.

Pada awal 2009, Jim menceritakan kisahnya kepada teman lamanya, Jack. Ketika itu, Jack tidak lagi bekerja purnawaktu di Twitter dan sedang mencari peluang baru. Mereka berdua tercengang melihat betapa tertinggalnya teknologi kartu kredit dibandingkan dengan terobosan mobile belakangan ini. Mereka pun berdiskusi tentang strategy pembayaran alternatif. Pada Desember 2009, Jim dan Jack meluncurkan Square. Mereka meluncurkan produk pertama kurang dari setahun kemudian. Square berhasil mencetak pembayaran satu miliar pada November 2014. Perusahaan ini ambil bagian dalam kompetisi sengit metode pembayaran masa depan. Pesaing mereka adalah perusahaan papan atas seperti Google Wallet, Apple Pay, dan perusahaan pemula lain seperti Stripe. Yang terakhir ini adalah perusahaan berbasis di San Francisco yang dimulai oleh dua bersaudara Irlandia, yang melakukan transaksi tahunan sekitar 1,5 miliar dolar.

Sejak lahir, Square memungkinkan terjadinya transaksi skala kecil, yang luput dari perhatian Jim semasa menjadi penjual kaca. Pendekatannya tak lain adalah untuk menghilangkan biaya dan komplikasi transaksi kartu kredit yang standar. Biasanya, setelah menerima kartu kredit, merchant (pedagang) melakukan dua jenis pembayaran. Pertama, mereka membayar serangkaian biaya kepada penyedia akun merchant, yang bertindak sebagai perantara antara merchant dan bank yang mengelola akunnya. Biaya ini membengkak: ada biaya rekening bulanan (rata-rata 10 dolar per bulan), biaya minimum bulanan (25 dolar), biaya gateway bulanan (antara 5 hingga 15 dolar), dan biaya transaksi (biasanya 0,5 hingga 5 persen per transaksi, ditambah biaya flat 20 hingga 30 sen, itu sebabnya banyak toko yang menetapkan jumlah transaksi minimal bagi pembelian dengan kartu kredit). Kategori kedua adalah yang membandingkan biaya yan dibayarkan langsung ke perusahaan kartu kredit. Bagiay yang menyedot porsi terbesar dari biaya proses kartu kredj, adalah yang disebut “biaya pertukaran” (“interchange fee”)

Membingungkan? Memang benar. Biaya itu bermacam-macam. Ada yang ditentukan oleh jenis bisnis yang dijalankan suatu merchant, kekuatan pasar yang dikendalikannya dan imbalan yang ditawarkan perusahaan kartu kredit Tambahan, perusahaan kartu kredit tidak membuat meto. denya mudah dipahami. Kebijakan MasterCard menyang. kut biaya pertukaran saja berjumlah lebih dari 100 halaman,

Reader kartu kredit Square dirancang untuk memangkas biaya perantara ini. Setelah dipangkas, total biaya menjadi antara 2,75 hingga 3 persen per pembayaran, yang dipecah antara mitra-mitranya, termasuk perusahaan kartu kredit.

Square dan kompetitornya berusaha untuk mengurangi friksi di pasar. Mereka berusaha meringankan komplikasinya dan puluhan miliar dolar yang dikeluarkan dalam bentuk biaya kartu kredit, biaya transaksi, atau ongkos kerugian transaksi seperti yang dialami perusahaan kaca Jim. Persisnya, Square dirancang untuk menjadikan proses penjualan lebih cair sehingga pelanggan bisa menyelesaikan transaksi tanpa bergantung dengan dompet dan biaya merchant, mulai dari mesin register uang tunai biasa hingga kartu kredit.

Jack percaya, Square adalah bagian dari tren yang lebih besar, yang mengembalikan fokus perekonomian pada inovasi dari bawah ke atas. Ia menjelaskan, “Salah satu alasan yang membuat kami memulai perusahaan ini adalah tren tersebut terhadap pengalaman yang lebih lokal. Jadi: gaya merasa susunan lingkungan dan semakin condongnya dunia daring ke pengalaman lokal yang luring adalah tren yang teramat menarik. Anda tidak hanya menemukannya di dunia komersial, tetapi juga di sektor lain seperti Foursquare dan Twitter. Dalam kasus-kasus terbaik, pergerakan daringlah yang berakhir dalam interaksi face-to-face. Jadi, dari segi faktor yang menggerakkan perekonomian dan lokasi kekuatan, saya rasa jaringan pedagang lokal dan pembeli lokal inilah jawabannya. Kita tengah menyaksikan pergeseran dari multinasional dan korporasi ke entitasentitas lokal. Kita melihat jumlahnya dengan jelas. Inilah dinamika yang akan kami kupas lebih jauh dalam bab ini, melalui telaah tentang pembagian ekonomi tersebut. Square memperkaya ekonomi lokal dengan menambahkan kapabilitas baru sektor perdagangan ke teknologi yang ada. “Square menunjukkan kekuatan distribusi dan mendistribusikan teknologi,” kata Jack. “Siapa pun bisa mengambil peranti yang telah mereka miliki dan mendadak menjadi mesin dagang yang dahsyat di area tertentu, yang kemudian memengaruhi entitas yang lebih besar: daerah sekitar, kota, negara bagian, dan kemudian negara itu.” Jack juga mendorong Square untuk melawan ketidaksetaraan yang menyertai inovasi. la menyelenggarakan berbagai acara Square di kota-kota seperti Detroit dan St. Louis, yang menderita lantaran hilangnya pekerjaan manufaktur dari AS. Jack memandang Square sebagai produk yang bisa membantu area yang tengah berjuang untuk melahirkan bisnis baru. “Saya rasa, peran Square di sini adalah memudahkan perdagangan,” kata Jack. “Tidak ada biaya, hanya perdagangan, sehingga siapa pun bisa memulai usaha, lalu menjalankannya dan mengembangkannya dengan mudah.”

lnilah perusahaan perdagangan bagi pria ini.

SendShareTweetShare
Sebelumnya

Pocadi Taman Trunojoyo Resmi Dibuka, Ada Jutaan e-book

Selanjutnya

Kitab Rahasia Tidur

Siti Khotijah

Siti Khotijah

Redaktur Jakarta Book Review

TULISAN TERKAIT

5 Alasan Kenapa The E-Myth Revisited Harus Kamu Baca Sebelum Bisnismu Diam-Diam Runtuh!

5 Alasan Kenapa The E-Myth Revisited Harus Kamu Baca Sebelum Bisnismu Diam-Diam Runtuh!

20 Juni 2025
Ingin Bisnis Jalan Sendiri, Kamu Bisa Liburan Tanpa Cemas? Temukan Rahasianya di Buku The E-Myth Revisited

Ingin Bisnis Jalan Sendiri, Kamu Bisa Liburan Tanpa Cemas? Temukan Rahasianya di Buku The E-Myth Revisited

18 Juni 2025
The Power Of Azan

The Power Of Azan

18 April 2022
The Culture Code

The Culture Code

7 April 2022
Selanjutnya
Selanjutnya
Kitab Rahasia Tidur

Kitab Rahasia Tidur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In