Kamis, 2 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Bilik-Bilik Cinta Muhammad

Oleh Siti Khotijah
22 Desember 2021
di Nukilan
A A
Bilik-Bilik Cinta Muhammad

Bilik-Bilik Cinta Muhammad

Di Rumah Ibu-Ibu Kaum Mukmin

Di rumah Saudah

Saudah bint Zam‘ah al-Amiriyyah tinggal di rumah Nabi sebagai istri setelah Khadijah. Bukan beliau yang mengusahakan, bukan beliau yang merencanakan, melainkan istri seorang sahabat yang ikut hijrah ke Habasyah. Wanita ini merasa iba melihat Nabi hidup sendiri, terenyuh atas kesedihan beliau yang bertubi-tubi. Wanita ini adalah Khaulah bint Hakim, teman dekat Saudah waktu hijrah ke Habasyah. Suatu hari, Khaulah mendatangi Nabi. Setelah bercerita panjang lebar, ia mengajukan usul agar Nabi kawin dengan dua wanita sekaligus; Aisyah bint Abu Bakar dan Saudah bint Zam‘ah. Wanita pertama sekadar dipinang, lalu ditunggu sampai ia dewasa dan siap berumah tangga. Sedangkan wanita kedua langsung hidup serumah dengan Nabi untuk memberi ketenteraman batin, menghibur, dan merawat putri-putri beliau, utamanya si kecil Fathimah al-Zahra’.

Usul Khaulah diterima oleh Nabi. Beliau lalu mengutus wanita ini juga untuk melamar Saudah, janda yang hidup menderita karena ditinggal mati suaminya, Sakran, dan telah merasakan pahit getirnya pulang pergi hijrah ke Habasyah. Beliau ingin meringankan penderitaannya, mengangkat derajatnya, menjaganya dari fitnah kaumnya yang kafir dan sangat membencinya, dan agar ia tidak dikawini laki-laki yang tidak selevel. Karena itu, perkawinan ini tidak hanya berarti sebagai bingkisan agung bagi Saudah, tetapi juga demi melunakkan hati keluarganya yang sampai saat itu getol memusuhinya.

Dalam jalinan perkawinan itu Saudah memperoleh curahan cinta dan kasih sayang yang cukup dari Nabi. Kesedihannya perlahan hilang, berganti keriangan dan kegembiraan. Kini ia hidup tenang. Ja lihat apa yang didapat dari Nabi tak melulu cinta, tetapi lebih dari itu. Lebih!

Begitu pula Nabi. Dari wanita yang sebenarnya berjiwa periang ini beliau menemukan ketenteraman, tawa ceria, dan kebahagiaan. Tak heran bila untuk sekian lama ia menjadi istri tunggal beliau, tidak dimadu dengan istri lain.

BACA JUGA:

5 Alasan Kenapa The E-Myth Revisited Harus Kamu Baca Sebelum Bisnismu Diam-Diam Runtuh!

Ingin Bisnis Jalan Sendiri, Kamu Bisa Liburan Tanpa Cemas? Temukan Rahasianya di Buku The E-Myth Revisited

The Power Of Azan

The Culture Code

Namun, ada satu hari yang ganjil yang tak pernah ia lupakan. Hari ketika ia bertindak bodoh hingga memancing amarah Rasulullah. Bahkan, wajar bila dirinya diganjar ribuan caci maki dan hukuman. Atau, lebih fatal lagi dicerai. Tetapi, semua itu tak beliau lakukan. Beliau hanya mengatakan tindakan seperti itu tidak terpuji. Dan, ini sudah cukup untuk membuat Saudah kapok dan tak punya muka.

Hari itu, Saudah merasa sedih atas terbunuhnya beberapa orang musyrik Makkah dalam Perang Badar. Hatinya terpukul. Padahal, mereka adalah para penentang Allah dan Rasul-Nya yang berkali-kali berusaha menekuk dan membunuh beliau, mengintimidasi dan menyiksa kaum muslim di Makkah, dan mendesak mereka menyingkir dari sana. Dan Saudah sendiri bersama suaminya, Sakran, telah merasakan sendiri bara penderitaan akibat perbuatan mereka.

Namun, begitu menyaksikan mereka lunglai di hadapan kaum muslim sebagai tawanan, digiring dalam keadaan terantai dan berdesak-desakan, ia jadi lupa akan kejahatan mereka dan merasa iba. Ia tak kuasa menahan diri meliha iparnya, Suhail ibn Umar, terhina dengan tangan dibelenggu ke lehernya. Sontak ia berteriak memberi semangat kepada mereka, “Mau ke mana, Abu Yazid? Apakah kalian akan menyerah dan mengulurkan tangan begitu saja? Jangan, kalian harus mati terhormat!”

Saudah sama sekali tidak tahu kalau kata-kata yang ia ucapkan dengan lantang dan berapi-api itu didengar oleh Nabi, bahkan ia sendiri berada di hadapan beliau. Begitu sadar Nabi berada di depannya dan menyaksikan apa yang baru saja diucapkannya, ia sedih. Dipejamkannya kedua matanya, ditutupnya mulutnya dengan tangan seolah ingin mengingkari ucapan spontannya tadi. Ia tahu tidak semestinya berkata begitu. Ia bahkan heran kenapa kata-kata tadi bisa lepas begitu saja dari mulutnya. Padahal, orang seperti dirinya tak patut lagi melontarkan kalimat yang menyulut semangat kaum musyrik untuk melawan kaum muslim itu. Itu sisa tradisi Jahiliah yang menguap tanpa kendali dari dalam diri Saudah.

Tetapi, Nabi tidak bertindak reaktif. Tak tampak sama sekali beliau marah. Raut wajahnya tak berubah. Klimaks terjauh yang beliau sarangkan kepada Saudah hanyalah mengatakan bahwa ucapannya itu tidak terpuji dan tidak selayaknya terlontar dari orang seperti dia.

“Saudah, apakah kau membela Allah dan Rasul-Nya?” retoris pertanyaan Nabi.

Bergegas ia minta maaf kepada sang suami. Ia berkilah, Demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak dapat menguasai diri ketika melihat Suhail ibn Umar diikat, lalu secara spontan terlontarlah kata-kata itu dari mulutku.”

Membias senyum di bibir Nabi. Senyum penuh cinta kasih kepada wanita lembut yang tengah terbawa naluri kewanitaannya, lepas kendali, dan lupa diri itu. Nabi berjanji akan memperlakukan tawanan itu dengan baik.

Sampai tua Saudah hidup berumah tangga dengan Rasulullah, beliau tetap tak surut semangat untuk membahagiakannya, menghormati dan mencintainya. Tetapi, karena suatu alasan intern rumah tangga yang tidak bisa kita campur tangani, beliau sebenarnya bermaksud menceraikannya. Tetapi, Saudah minta kepada Nabi untuk merawat beliau hingga akhir hayat. Permintaannya dikabulkan, dan ia memperoleh apa yang ia inginkan dari beliau. Karena yang la cari dari Nabi hanyalah keridaan beliau, maka ia relakan malam gilirannya dialihkan kepada Aisyah.

Saudah ikut serta dalam haji wada‘ bersama Rasulullah. Tubuhnya yang padat membuat langkahnya berat. Tetapi, beliau tetap setia menemani, dan ikut prihatin atas tubuhnya yang lemah itu. Ia diizinkan berangkat malam dari Masy‘ar al-Haram ke Mina, mendahului yang lain agar sampai lebih awal dan terhindar dari desak-desakan.

Di Rumah Aisyah

Sejenak kita kembali ke belakang, menengok hari-hari menegangkan, detik-detik paling keras ketika Nabi meninggalkan Makkah, mengarungi gurun lepas menuju Madinah, lalu menetap di sana setelah tiga belas tahun menahan lelah yang meremukkan.

Dengan berdirinya negara Islam yang halaman muka sejarahnya diawali dengan hijrah yang dramatis dan mengharukan, Nabi dapat bernapas lega. Mungkin beliau juga merasa perlu istirahat meski sejenak dan mendirikan rumah sesuai petunjuk Allah. Tidak sekadar untuk mengajarkan bagaimana seharusnya membangun sebuah rumah, tetapi juga untuk menegaskan bahwa hidup beliau tak berbeda dengan hidup kaum mukmin pada umumnya, bahwa beliau seutuhnya adalah manusia, baik ucapannya maupun kelakuannya.

Bahu-membahu kaum muslim membangun masjid yang kelak dikenal dengan Masjid Nabawi itu. Di sisi masjid, Nabi mendirikan bilik-bilik, salah satunya ditempati beliau bersama Saudah bint Zam’ah setelah menyusul beliau hijrah.

Beliau juga membangun sebuah bilik untuk Aisyah bint Abu Bakar, satu-satunya istri beliau yang perawan.

Tidak terlalu sulit bagi Nabi membangun suasana adaptasi yang selaras dengan istri beliau yang masih ingusan ini, yang baru saja meninggalkan masa kanak-kanak. Dibiarkannya ia menghirup sisa-sisa kekanak-kanakannya, baik pola pikir maupun tingkah laku bermainnya.

Tidak dinafikan oleh Nabi bahwa Aisyah butuh perawatan dan perlakuan khusus. Beliau juga tidak menuntut ia berbuat sesuatu di luar batas umurnya. Bahkan, beliau memberinya cinta, kasih sayang, dan kelembutan melebihi yang ia dapatkan dari kedua orangtuanya.

Beliau juga mengundang sahabat-sahabat ciliknya untuk bergabung dengannya; bermain, bernyanyi-nyanyi, dan bercanda. Senyum beliau mengembang untuk mereka, disuruhnya mereka berbetah-betah bersamanya, beliau pun tidak meninggalkan mereka.

Aisyah berkisah, “Aku bermain dengan teman-teman perempuan di dekat Nabi. Aku mempunyai beberapa teman permain. Bila Nabi masuk, mereka mundur. Tetapi, beliau lantas menarik mereka ke arahku, lalu mereka bermain lagi denganku.”’”

Beliau tidak melarang Aisyah berteriak-teriak girang, mengangkat suaranya lantang, atau berbicara dengan kemanjaan seorang putri agung yang tahu kedudukannya sebagai orang yang dicintai, dihormati, dan dimuliakan.

Kedudukan beliau, baik sebagai nabi maupun rasul, sama sekali tidak menghambat untuk memberi keleluasaan kepada Aisyah untuk memenuhi apa yang ia inginkan. Tak pernah sehari pun beliau bersabda, “Kamu ini istri seorang rasul yang mempunyai kedudukan agung di sisi Allah. Jadilah manusia sempurna, jadilah simbol keagungan dan kegagahan.

Nabi juga tak pernah meletakkan tangan ke mulut Aisyah untuk mencegahnya berbicara, membantah, atau marah.

Semua itu beliau lakukan agar hidup Aisyah berjalan alami sesuai tabiat dalam dirinya. Tak ada intervensi, tak ada upaya mencerabutinya, kecuali menyangkut larangan agama atau lepas dari hukum syarak.

Tak pernah pula Nabi membunuh keinginan Aisyah yang baik dan menyelamatkan. Bila ingin meluruskan sebagian keinginannya yang menyimpang, beliau melakukannya dengan metode pendampingan dan pemberian nasihat, tidak sampai memaki sedikit pun.

Mungkin kelakuan Aisyah yang demikian itu dinilai buruk oleh ibunya. Ia ingin putrinya segera meninggalkan masa kanak-kanak menuju masa remaja dan dewasa sesuai dengan kedudukan rumah tangganya yang agung, rumah tangga kenabian. Begitu pula sang ayah, Abu Bakar, mungkin ia menganggap Aisyah tidak baik berkelakuan seperti itu. Maka dicegahnya atau ditegurnya ia agar segera menanggalkay baju kekanak-kanakannya yang menurut sang ayah, tidak sesuai dengan kedudukannya sebagai istri Nabi saw.

Bila perlakuan kedua orangtuanya itu diketahui Nabi beliau berusaha mencegah agar tidak mencela atau memaki. Diberinya mereka pemahaman bahwa apa yang dilakukan Aisyah adalah tuntutan fitrah sesuai usianya, bahwa ia berada dalam suatu fase perkembangan yang harus dijalaninya secara sempurna.

Pernah suatu kali Nabi masuk ke kamar Aisyah. Hari itu hari raya. Aisyah ditemani dua orang biduanita yang tengah melantunkan sebuah lagu sambil menabuh rebana. Beliau menuju tempat tidur, berbaring di sana sambil memalingkan muka. Abu Bakar masuk lalu menghardik Aisyah. “Seruling setan berada di dekat Nabi?”

Nabi menghadap Abu Bakar. “Biarkan mereka,” sabda beliau.

Setelah dilihat Nabi tak peduli, Aisyah segera memberi isyarat, lalu keduanya pergi.

Suatu hari beberapa orang Abisinia datang ke Madinah. Mereka diperkenankan Nabi unjuk kebolehan bermain tombak dan lembing di dalam masjid. Ketika disampaikan keinginan Aisyah untuk nonton, beliau bahkan menganjurkannya menyaksikan dan menikmati gerakan kesatria mereka. la bersandar pada punggung Nabi dari dalam kamarnya yang tembus ke masjid dan tidak berhenti nonton sebelum puas.

Di rumah Nabi Aisyah tumbuh makin dewasa dan makin matang. Setiap inci perkembangannya tak luput dari pengawasan sang suami agung. Beliau senang ia dapat ment jalani tahapan hidupnya itu dengan sempurna. Meski belial sendiri telah jauh meninggalkan fase usia muda, tak dibiarkannya Aisyah tumbuh tanpa bantuannya, terus diajaknya pula bermain sejalan dengan tingkat usianya yang terus berkembang.

Beliau tidak menuntut agar Aisyah menyelaraskan diri dalam urusan dunia dengan selera Rasulullah. Bahkan, beliaulah yang beradaptasi dengan keinginannya. Jabir bertutur, “Rasulullah itu pria gampangan; jika Aisyah ada maunya, beliau menurutinya.”

Bahkan, gejolak mudanya beliau bangkitkan, beliau kobarkan. Ketika suatu kali ia ikut menemani beliau ke medan perang, ia tidak dicegah ikut berperang dan disiapkannya suatu tempat yang aman dan jauh dari pasukan. Ia juga pernah diajak adu lari.

Aisyah tumbuh menjadi remaja putri yang periang, kuat, dan tahan banting. Di hatinya menyala semangat yang meluap-luap; semangat darah muda. Saat bertanding adu lari dengan Nabi, ia meninggalkan beliau jauh di belakang sambil tak henti meledek dan menertawakan beliau. Beliau kagum, betapa ia menyukai olahraga itu.

Beberapa tahun berlalu. Pada suatu kesempatan Aisyah keluar bersama Nabi, beliau mengajaknya bertanding lagi. Kali ini lari cepat dimenangkan Nabi. Aisyah kalah, karena tubuhnya sudah padat berisi. Aisyah cemberut, tetapi Nabi meledeknya dengan menyarangkan senyum. Dikenangkannya bahwa dulu ia yang menang, tetapi kali ini ia bertekuk futut. “Impas!” sabda beliau menggoda.

Nabi tahu seluk-beluk jiwa Aisyah; tahu kapan jiwanya sensitif kapan bahagianya selangit. Ketika menegurnya pada satu situasi yang jernih, beliau bersabda, “Aku tahu kapan kamu marah kapan kamu bahagia.”

Merasa tersinggung dan heran, Aisyah bertanya bagaimana beliau bisa mengetahui suasana hati yang ia sembunyikan rapi. “Jika sedang marah, kau bersumpah ‘Demi Tuhan Ibrahim’, jika hatimu sedang lapang, kau bersumpah ‘Demi Tuhan Muhammad’.” Terkaan yang jitu.

Aisyah tersipu, tawanya lepas tak tertahan. “Demi Allah, wahai Rasulullah, hanya namamu yang kutinggalkan,” akunya polos.

Nabi takjub akan gairah kecemburuan Aisyah. Bahkan, kadang sampai bingung memahami sikap kewanitaan dan kecintaannya yang luar biasa kepada beliau. Pernah suatu kali, ketika berada di rumah Aisyah, beliau meminta makanan untuk hidangan tamu-tamu beliau. Tetapi kemudian, beliau datang membawanya dari Ummu Salamah. Sontak Aisyah berang, ia pecahkan pinggan. Nabi tersenyum lalu bersabda kepada para tamu, “Ibumu lagi cemburu.”

Suatu hari, Aisyah pulang dari pesta pernikahan. Nabi bertanya, apakah undangan wanita ada yang bernyanyi untuk pengantin? Karena dianggap aneh, pertanyaan itu tidak digubris. Tetapi, beliau kemudian bersabda, “Kenapa tidak kau ucapkan:

Kami datang pada kalian

Kami datang pada kalian

Maka berilah kami salam

Kuberi pula kalian salam

Kalau bukan karena sang pujaan

Yang berambut pirang

Takkan rela aku tinggal

Di lembah bukit kalian.”

SendShareTweetShare
Sebelumnya

My Cold Alpha

Selanjutnya

Kenali Lebih Dekat Artikel, Berita, dan Feature

Siti Khotijah

Siti Khotijah

Redaktur Jakarta Book Review

TULISAN TERKAIT

5 Alasan Kenapa The E-Myth Revisited Harus Kamu Baca Sebelum Bisnismu Diam-Diam Runtuh!

5 Alasan Kenapa The E-Myth Revisited Harus Kamu Baca Sebelum Bisnismu Diam-Diam Runtuh!

20 Juni 2025
Ingin Bisnis Jalan Sendiri, Kamu Bisa Liburan Tanpa Cemas? Temukan Rahasianya di Buku The E-Myth Revisited

Ingin Bisnis Jalan Sendiri, Kamu Bisa Liburan Tanpa Cemas? Temukan Rahasianya di Buku The E-Myth Revisited

18 Juni 2025
The Power Of Azan

The Power Of Azan

18 April 2022
The Culture Code

The Culture Code

7 April 2022
Selanjutnya
Selanjutnya
Kenali Lebih Dekat Artikel, Berita, dan Feature

Kenali Lebih Dekat Artikel, Berita, dan Feature

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In