Rabu, 17 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Kenal Lebih Dekat Toko Buku Klasik Tereksis di Dunia

Oleh Siti Khotijah
4 November 2021
di Berita Buku
A A
Toko Buku Shakespeare and Company (Foto: thetimes.co.uk/Jakarta Book Review)

Toko Buku Shakespeare and Company (Foto: thetimes.co.uk/Jakarta Book Review)

Paris – Di Prancis terdapat sebuah perpustakaan kecil yang merangkap toko buku yang diberi nama Shakespeare and Company. Bangunan kecil yang terletak di tepi sungai Seine, Paris, ini ternyata menjadi saksi bisu lahirnya tokoh-tokoh sastra dunia seperti Ernest Hemingway, James Joyce, Jean Paul Sartre, Allen Ginsberg, Lawrence Ferlinghetti, Gregory Corso, hingga Simone de Beauvoir.

Toko buku ini didirikan pada tahun 1919 oleh Sylvia Beach, seorang ekspatriat Amerika, karena terinspirasi oleh toko buku Adrienne Monnier, Les Maison des Amis des Livers. Beberapa tahun berjalan,toko buku ini nyaris bangkrut terkena imbas depresi ekonomi. Hingga akhirnya toko buku ini benar-benar tutup pada tahun 1941 karena pendudukan Jerman di Prancis.

Sampai pada tahun 1951 seorang veteran perang Amerika Serikat, George Whitman, pindah ke Prancis untuk menghabiskan masa tuanya. Disini ia mendirikan toko buku yang diberi nama Le Mistral di Rue de la Bucherie. Hingga pada tahun 1964, atas restu dan sebagai penghormatan pada Sylvia Beach, George mengganti nama toko bukunya menjadi Shakespeare and Company.

Pada era Sylvia Beach, toko buku Shakespeare and Company pernah menjadi kantor penerbitan buku dan majalah sastra. Kala itu, Sylvia memperjuangkan penerbitan Ulysses karya James Joyce. Perjuangannya mulai dari mencarikan juru ketik naskah, hingga mempromosikan pesan-beli buku itu kepada seluruh relasi Shakespeare and Company. Bahkan, ia juga pernah menyelundupkan buku itu ke Amerika dengan bantuan koneksi Hemingway.

Pada era George, toko buku ini pernah menerbitkan majalah sastra, Merlin, The Paris Magazine, dan Two Cities.  Bahkan Merlin dianggap menjadi majalah pertama bagi Samuel Beckett menerbitkan karyanya. Two Cities disokong oleh Anaïs Nin dan Lawrence Durrell, dan menerbitkan karya Ted Hughes dan Octavio Paz. Sedangkan The Paris Magazine menerbitkan karya dari Lawrence Ferlinghetti, Jean-Paul Sartre, dan Pablo Neruda.

BACA JUGA:

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

Sejak pertama kali berdiri, toko buku ini sering mengadakan kegiatan jamuan yang dihadiri oleh para sastrawan. Di jamuan ini para sastrawan saling mengenal satu sama lain. Terdapat pula acara mingguan yang biasa disebut Sunday Tea Party. Acara diskusi ini bahkan pernah melibatkan Dave Eggers, Jonathan Safran Foer, dan Naomi Klein.

Salah satu ciri khas toko buku ini yaitu, setiap yang berkunjung ke tempat ini boleh menginap gratis. Sebagai gantinya, mereka diminta untuk membantu menjaga dan memelihara toko, membaca setidaknya satu buku setiap hari, dan sebelum meninggalkan Shakespeare and Company mereka diminta untuk menuliskan otobiografinya selama menumpang di sana. Terhitung sejak 1951, sudah ada lebih dari 30.000 orang telah menginap disana.

Kini, dengan usianya yang lebih dari satu abad, toko buku Shakespeare and Company masih tetap eksis menjadi pemasok buku baru, bekas, dan antik. Selain itu juga menjadi perpustakaan bacaan gratis terbuka bagi umum dengan segala tradisinya. (Zak/JBR)

SendShareTweetShare
Sebelumnya

Bukan Bakat atau Kecerdasan, Yang Bikin Anda Maju Adalah Pola Pikir

Selanjutnya

Mindset

Siti Khotijah

Siti Khotijah

Redaktur Jakarta Book Review

TULISAN TERKAIT

text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Mindset

Mindset

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In