Jakarta, JBR (2/9/2025) – Asosiasi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta membuka posko layanan konseling untuk para Jurnalis, Media, homeless Media dan Pers Mahasiswa yang mengalami tekanan psikologis setelah meliput aksi massa kemarin. Kekerasan dan benturan konflik dari aparat penegak hukum menjadi tindakan yang dapat memicu terjadinya trauma dan tekanan psikis. Posko layanan konseling ini bukan hanya tersedia di area Jakarta, melainkan kawasan Jabodetabek. Terdapat 400-an anggota AJI Jakarta yang telah membuka akses layanan konseling, mencakup area Jabodetabek.
Hal itu disampaikan oleh Irsyan, selaku Ketua AJI Jakarta dalam wawancara yang dilakukan oleh Jakarta Book Review (JBR) via telepon. Kekerasan terhadap jurnalis dalam demonstrasi dari tanggal 25 sampai 31 Agustus kemarin menjadi urgensi bagi komunitas jurnalis dan AJI Jakarta.
“Melihat eskalasi beberapa hari terakhir, ternyata profesi jurnalis ini memang rawan untuk terkena tekanan psikis. Kemarin teman-teman AJI membuka akses layanan konseling untuk Jurnalis di luar AJI Jakarta” ujar Irsyan kepada JBR.
Situasi lapangan yang buruk
AJI Jakarta mengatakan layanan konseling ini adalah sebagai support kepada teman-teman jurnalis dan media. Selain itu, AJI Jakarta juga membuka donasi terhadap layanan konseling ini karena dikhawatirkan kuota yang disediakan oleh AJI Jakarta tidak mencukupi.
“Pembukaan posko layanan konseling bagi Jurnalis ini bukan hanya bantuan semata, tetapi juga bagian dari advokasi bersama. Jadi, warga bantu warga” tambah Irsyan.
Situasi di lapangan yang buruk menjadi simpati bagi para masyarakat terhadap mereka yang melaporkan di media sosial maupun media mainstream. Masyarakat juga dapat mendukung kesehatan mental Jurnalis yang meliput kerusuhan dan akses informasi sebagai hak publik untuk masyarakat.
Selain menjadi tanggung jawab perusahaan media tempat jurnalis bekerja, AJI Jakarta mengambil langkah-langkah yang dapat membantu situasi dan kondisi dari perusahaan media yang terkena dampak ekonomi.
“AJI Jakarta mengambil peran ini karena kondisi ekonomi yang sedang memburuk, banyak PHK pekerja media, pemotongan gaji, dan pengurangan akses pelayanan dasar oleh perusahaan. Kami mengambil ruang itu sehingga hak publik untuk informasi itu tetap bisa didapat” kata Irsyan dalam wawancara.
Irsyan juga menghimbau kepada teman-teman media yang meliput untuk tetap memerhatikan keselamatannya, membawa ID PERS, dan memastikan lokasinya ketika terjadinya kerusuhan. Selalu mengabarkan kepada kerabat/redaksi agar memudahkan bila diperlukan proses evakuasi. Selalu waspada karena kondisi di lapangan yang tidak dapat diprediksi. Dan penutup dari Irsyan sebagai Ketua AJI Jakarta adalah tidak ada berita yang seharga dengan nyawa.
Laporan demografi dan kekerasan Jurnalis di Indonesia
Asosiasi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia merilis buku laporan yang berjudul “Potret Jurnalis Indonesia 2025” dalam bentuk digital. Buku itu memuat data terkait Demografi, Budaya Kerja, Kompetensi Digital, dan Kekerasan Terhadap Jurnalis. Dirilis pada tanggal 18 Maret 2025 lalu, buku ini menjadi acuan data tim redaksi JBR untuk memperlihatkan kepada pembaca terkait Kekerasan Jurnalis.

AJI Indonesia melakukan survei pada 15 Oktober – 26 November 2024, dengan melakukan teknik pengumpulan data purposive sampling yang menyasar ke 2.020 responden di tiap provinsi. Estimasi margin of error sebesar 2.2 pada tingkat kepercayaan 95%.
Dengan membagi ke dua kluster, yaitu Klaster Demografi dan Kondisi Kerja dan Klaster Budaya Kerja, Kompetensi Digital; dan Kekerasan Terhadap Jurnalis.
Laporan dari AJI Indonesia tersebut bisa dibaca di sini.
Reporter: Dimas Yusuf
Editor: Abdul Rahman Ma’mun








