Senin, 30 Maret 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Sandyakala Ning Prabu Mulyono

Jadi, sebenarnya apa pilihan Prabu Mulyono? Sementara itu, sebentar lagi dia harus lengser keprabon.

Oleh Made Supriatma
27 Agustus 2024
di Berita Utama
A A
ilustrasi

ilustrasi

Skak mat? Saya kira Prabu Mulyono sudah di posisi skak mat sekarang ini. Saya tidak melihat ada hal-hal yang bisa dimenangkan oleh dia. Hampir semua jalur sudah tertutup. Pangeran Pisang, anak bungsunya, sudah rusak reputasinya. Kemewahan dan hedonisme yang dia pertontonkan bersama istrinya, Putri Nyi Onthong, membuat banyak orang marah.

Menantunya, Adipati Bobabul, yang mau jadi gubernur tanah seberang juga tidak aman posisinya. Ada kemungkinan dia kalah biar pun sudah menggantung di oyot wit ringin. Namun wit ringin pun sekarang rentan karena Prabu Mulyono mengganti penjaganya beberapa hari lalu. Masih harus dilihat apakah Tuyul yang dipercaya itu akan sanggup melawan para genderuwo, kuntilanak, wewe gombal serta makhluk halus yang berkuasa di dalam wit ringin itu.

Prabu Mulyono memang berhasil mengganti penjaga wit ringin, yang diyakininya akan menjaga dan tetap memberi kekuasaan kepadanya. Namun kekuasaan Prabu Mulyono di sana belum mantap betul.

Sebagaimana penguasa di mana saja, Anda tidak akan aman kalau bukan Anda sendiri yang memegang tampuk kekuasaannya. Hanya dengan mendudukkan proxy Tuyul di sana, itu tidak akan membuat aman.

Seperti Tuyul peliharaan Mbah Arto GPK dulu, yang sukanya omong-omong kosong saban hari itu, ketika terdesak, ia ya khianat. Padahal dia itu kurang loyal apa? Jilatannya kurang apa?

BACA JUGA:

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

10 Tahun Jokowi: Siapa Puas, Siapa Tak Puas, Mengapa?

Lawan Oligarki, Media Wajib Pertahankan Demokrasi

Menyikapi Kegentingan Konstitusi, Dewan Guru Besar UI Bicara

Apakah Tuyul yang sekarang diserahi tugas menjaga wit ringin ini tidak akan khianat kalau dipaksa sama para genderuwo dan sekalian dhemit di sana untuk memilih: Hayo, kowe setia pada negeri wit ringin dan penghuninya atau kepada Prabu Mulyono?

Lha, itu pilihan sulit bagi sang Tuyul.

Saya bisa membayangkan sebuah akhir yang Shakespearean di sini. Yakni, Prabu Mulyono akan bilang, “Et tu, Yul?” Kowe yo melu khianat, Yul?

Sementara itu, Pangeran Gibas yang akan jadi wakil sultan sekarang berada pada posisi yang sangat lemah. Dia tidak punya kekuatan apa pun selain sokongan dan dukungan ayahandanya, Prabu Mulyono. Dia tidak berpartai — dan tidak berprestasi juga. Lalu kekuatan riil apa yang dipunyainya? Sungguh kekuasaannya hanya tergantung dari belas kasihan Mbah Wowo yang akan jumeneng beberapa bulan lagi.

Jadi, sebenarnya apa pilihan Prabu Mulyono? Sementara itu, sebentar lagi dia harus lengser keprabon. Dia sendiri sudah mulai kelihatan menyadari apa yang terjadi. Dia mengeluh, sekarang orang sudah ramai-ramai meninggalkan dirinya.

Di jalanan, dia dikutuki karena nafsu berkuasanya. Anak-anaknya, buah hati kesayangan yang dicarikannya kerja dan jaminan hari tua itu, dijadikan bahan ejekan. Bahkan bau ketek menantunya menjadi persoalan. Di negeri yang suka sensasi ini, orang yang suka cari sensasi akan jatuh karena sensasi pula.

Sungguh situasi sangat berubah cepat. Belum lewat sepuluh hari, dia benar-beanr tampil sebagai Raja Gung Binatara di Keraton setengah jadi yang sedang dibangunnya. Dia memperlihatkan semua orang takut padanya. Baru beberapa hari lalu, dia ganti paksa penjaga wit ringin. Langkah yang berani, kejam, dan brutal. Namun tiba-tiba semua berbalik arah. Angin buritan berubah menjadi badai.

Satu hal yang sulit diingat oleh para politisi di negeri ini: jangan terlalu memanjakan anak! Kalau mau anakmu menggantikanmu, suruh dia meniti karier dari bawah. Jangan malah aturannya dibengkokkan.

Juga anak-anakmu dikontrol. Jangan sampai ketahuan hidup super mewah dan pamer. Seolah-olah mengentuti kaum mayoritas negeri ini, yakni orang miskin dan susah! Lha, kalo mereka bersatu, dan persatuannya itu justru karena membenci kowe, kan berabe urusannya?

Kalau Anda ada saran, bagaimana Prabu Mulyono bisa keluar dari situasi yang dibikinnya sendiri ini, apa saran Anda? Jangan kasih saran seperti, “aja kemlinthi” … itu telat.

Topik: lengser keprabonPrabu Mulyono
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Berpindah Keyakinan karena Kisah Pahit Beruntun

Selanjutnya

Bibit-bibit Radikalisme di Kampus

Made Supriatma

Made Supriatma

Kolumnis, Visiting Research Fellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura.

TULISAN TERKAIT

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
10 Tahun Jokowi: Siapa Puas, Siapa Tak Puas, Mengapa?

10 Tahun Jokowi: Siapa Puas, Siapa Tak Puas, Mengapa?

15 Oktober 2024
Lawan Oligarki, Media Wajib Pertahankan Demokrasi

Lawan Oligarki, Media Wajib Pertahankan Demokrasi

22 Agustus 2024
Menyikapi Kegentingan Konstitusi, Dewan Guru Besar UI Bicara

Menyikapi Kegentingan Konstitusi, Dewan Guru Besar UI Bicara

22 Agustus 2024
Selanjutnya
Selanjutnya
Bibit-bibit Radikalisme di Kampus

Bibit-bibit Radikalisme di Kampus

Ulasan Pembaca 3

  1. Ping-balik: Kanjeng Doktor Bahlil - Jakarta Book Review (JBR)
  2. Ping-balik: Merawat Kemerdekaan Kampus - Jakarta Book Review (JBR)
  3. Ping-balik: Sukidi: The Critical Voice - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In