Rabu, 1 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Pertarungan Dua Raksasa Kecerdasan Buatan

Parmy Olson memberikan gambaran utuh dunia AI yang bukan sebatas teknologinya, tapi juga aspek politik dan bisnis.

Oleh Jalal
3 Februari 2025
di Resensi
A A
Parmy Olson dan karya terbarunya, "Supremacy..".

Parmy Olson dan karya terbarunya, "Supremacy..".

Financial Times pada akhir tahun 2024 menobatkan buku Parmy Olson, Supremacy: AI, ChatGPT, and the Race That Will Change the World, sebagai buku bisnis terbaik. Menurut saya, buku itu “cuma” juara dua saja. Saya menempatkan buku Higher Ground karya Alison Taylor sebagai jawara karena sudut pandang saya memang keberlanjutan bisnis, bukan bisnis secara umum. Saya sudah mengulas buku Taylor itu di paruh pertama tahun lalu, tetapi belum merasa tergerak untuk menuliskan resensi atas buku ini sampai di suatu titik yang aneh, di mana saya merasa buku ini jadi seperti tak lagi lengkap.

Mengapa tak lengkap? Lantaran buku ini mengisahkan perkembangan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, atau AI) melalui perlombaan yang dipimpin oleh dua tokoh utama: Sam Altman dari OpenAI dan Demis Hassabis dari DeepMind. Dengan latar belakang persaingan antara raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google, buku ini membahas bagaimana ambisi, strategi bisnis, serta implikasi sosial dari AI membentuk dunia yang sedang kita masuki.

Sampai beberapa minggu lalu, buku ini jelas serasa menjelaskan semua yang terjadi dalam jagat AI. Tetapi, tetiba dunia menyaksikan betapa mesin AI buatan benak-benak terbaik Tiongkok, DeepSeek, menyeruak dan membuat dunia terperangah. Silicon Valley dan Wall Street sedemikian terkejutnya, hingga dalam satu hari hampir satu triliun dolar bablas. Saya terpanggil menuliskan resensi ini, mungkin terutama untuk mengingat masa pra-DeepSeek. Karena saya percaya bahwa kita akan menyaksikan catatan sejarah yang akan sangat berbeda dengan apa yang dituliskan oleh Olson, dalam waktu tak lama lagi.

Era Kecerdasan Buatan: Dari Idealisme ke Korporatisme

Awalnya, pengembangan AI didorong oleh keinginan untuk menciptakan sistem yang dapat memahami dunia lebih baik dari manusia. Hassabis meyakini Artificial General Intelligence (AGI) akan menjadi alat revolusioner untuk memahami alam semesta dan mempercepat penemuan ilmiah, sementara Altman berpandangan bahwa AGI akan menciptakan kekayaan dalam jumlah besar yang dapat meningkatkan kesejahteraan manusia secara keseluruhan​.

BACA JUGA:

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Namun, idealisme tersebut dengan cepat berubah menjadi perlombaan antara korporasi besar yang melihat AI utamanya, kalau bukan satu-satunya, sebagai mesin uang. OpenAI, yang awalnya berbentuk lembaga nonprofit untuk meneliti AI demi kepentingan publik, bertransformasi menjadi entitas yang semakin tertutup dan akhirnya bersekutu dengan Microsoft demi mendapatkan akses ke daya komputasi dan pendanaan besar. Begitu pula DeepMind, yang dimiliki Google, yang awalnya mengklaim misinya adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tetapi kemudian terjebak dalam persaingan produk dengan OpenAI.

Dengan meningkatnya persaingan antara raksasa teknologi, transparansi terkait pengembangan AI mulai terkikis. Perusahaan menolak untuk mengungkap data pelatihan model AI mereka, bagaimana model mereka beroperasi, dan dampak sosial serta lingkungan dari teknologi ini. Stanford University bahkan mengeluarkan laporan yang menyebutkan bahwa perusahaan teknologi raksasa hanya mendapat skor rerata 37 dari 100 dalam hal transparansi AI​. Kalau ada yang masih percaya bahwa nama OpenAI itu benar-benar open, tentu itu hanya lantaran naif.

AI: Teknologi yang Mengubah Segalanya

Peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada November 2022 menjadi titik balik dalam adopsi AI secara massal. Dalam dua bulan, layanan ini telah memiliki 30 juta pengguna terdaftar dan terus berkembang pesat​. Teknologi yang mendasari ChatGPT, yaitu model GPT-4, dianggap oleh sebagian orang sebagai langkah besar menuju AGI.

Meski demikian, ChatGPT memiliki banyak kelemahan. Salah satu masalah utama adalah fenomena halusinasi, yaitu kecenderungan model AI untuk mengarang fakta. Contoh nyata dari masalah ini adalah kasus seorang penyiar radio di Georgia yang menggugat OpenAI karena ChatGPT secara keliru menuduhnya melakukan penggelapan dana​. Bahkan lebih dari itu, bias dalam AI menjadi permasalahan serius. Berbagai studi menunjukkan bahwa ChatGPT dan model sejenisnya cenderung memperkuat stereotip sosial. Misalnya, jika diminta menghasilkan gambar CEO, model AI cenderung menampilkan pria kulit putih, sementara jika diminta menggambarkan seorang kriminal, sering kali yang muncul adalah laki-laki kulit hitam​. Olson menggambarkan halusinasi dan bias ini dengan sangat menarik.

Setelah peluncuran ChatGPT, Google dipaksa bertindak cepat. DeepMind segera meluncurkan Gemini, yang disebut sebagai AI multimodal yang mampu memahami teks, gambar, bahkan strategi permainan​. Namun, dalam upayanya mengalahkan OpenAI, Google justru terbukti membesar-besarkan kemampuan AI-nya. Sebuah video promosi Gemini menunjukkan AI mampu mengenali objek secara real-time, padahal sebenarnya sistem hanya mampu mengidentifikasi gambar statis yang telah diproses sebelumnya​.

Sementara itu, Microsoft semakin mendekat ke OpenAI, menginvestasikan US$10 miliar dan mendapatkan kontrol signifikan atas pengembangannya​. Dengan integrasi ChatGPT ke dalam produk mereka seperti Bing dan Office, Microsoft berusaha mengguncang dominasi Google di pasar pencarian.

Baik Google maupun Microsoft menghadapi tantangan atau peluang—tergantung sudut pandang yang dipergunakan—yang luar biasa besar di Amerika Serikat, yaitu ruang hampa regulasi. Uni Eropa adalah satu-satunya entitas yang mulai memberlakukan regulasi ketat terkait penggunaan AI melalui EU AI Act. Namun, langkah tersebut mendapat perlawanan dari Altman, yang bahkan sempat mengancam akan menarik OpenAI dari pasar Eropa jika regulasi dianggap terlalu ketat.

Keberadaan AI yang semakin canggih membawa dampak sangat luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Salah satu dampak paling nyata adalah pada pasar tenaga kerja. Altman sendiri mengakui bahwa AI akan menggantikan banyak pekerjaan, terutama di bidang seperti layanan pelanggan, jurnalisme, dan pengembangan perangkat lunak​. Namun, ia juga menegaskan bahwa AI akan menciptakan pekerjaan baru yang lebih baik—meski tidak ada yang benar-benar bisa memastikan apa pekerjaan tersebut nantinya. Perbandingan sering dilakukan dengan Revolusi Industri, di mana otomatisasi menghilangkan pekerjaan tertentu tetapi juga menciptakan peluang baru​.

Selain itu, AI juga menghadirkan tantangan etis besar. Beberapa ilmuwan terkemuka, termasuk Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio, mengungkapkan kekhawatiran bahwa AI dapat berkembang di luar kendali manusia. Elon Musk bahkan turut menyerukan moratorium enam bulan terhadap penelitian AI tingkat lanjut untuk menghindari potensi risiko eksistensial. Tidak hanya itu, AI juga digunakan untuk pengawasan massal. Produk-produk baru berbasis AI memiliki kemampuan yang semakin invasif, mengumpulkan data pengguna dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perangkat wearable dengan AI seperti Tab yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi adalah contoh bagaimana AI dapat menjadi alat pengawasan yang ekstrem​. Diskusi ini, tentu saja, membuat saya teringat kepada buku mahakarya Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism, yang menunjukkan Google dan Facebook (kini Meta) adalah dalang di balik semua pelanggaran privasi dan pengawasan. Dengan AI, pengawasan massal kini semakin jadi.

Buku tentang AI yang Sempurna?

Buku Olson Supremacy – AI, ChatGPT, and the Race That Will Change the World bagi saya jelas memiliki beberapa kekuatan yang menjadikannya bacaan yang menarik dan informatif. Salah satu kekuatan utamanya adalah penceritaan yang naratif dan mendalam, yang tidak hanya memaparkan fakta dan perkembangan teknologi AI, tetapi juga membangun karakter utama, seperti Altman dan Hassabis, dengan cara yang hampir seperti novel biografi. Hal ini membuat pembaca lebih mudah memahami motivasi dan ambisi para perintis di bidang AI, serta bagaimana perjalanan hidup mereka turut membentuk perkembangan teknologi saat ini.

Buku ini juga berhasil menghubungkan AI dengan realitas sosial dan ekonomi, menjelaskan bagaimana teknologi ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memiliki implikasi luas terhadap pekerjaan, privasi, dan etika. Dengan menyoroti persaingan antara Microsoft dan Google, serta bagaimana regulasi mencoba mengimbangi kemajuan teknologi, buku ini memberikan gambaran menyeluruh tentang dunia AI yang tidak hanya dilihat dari sudut pandang teknologinya, tetapi juga dari aspek politik dan bisnis.

Analisis kritis terhadap bias dalam AI dan dampak AI terhadap pekerjaan juga menjadi keunggulan buku ini. Dengan menyertakan contoh nyata, seperti masalah bias dalam model AI yang mengarah pada stereotip rasial atau gender, buku ini tidak hanya merayakan kehebatan teknologi tetapi juga menunjukkan risiko sosial yang menyertainya. Selain itu, buku ini juga menggambarkan bagaimana regulasi AI masih tergagap dalam mengatasi kecepatan perkembangan teknologi, menjadikannya refleksi penting bagi pembaca yang ingin memahami peran AI di masa depan.

Terakhir, penggunaan riset dan wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh di industri teknologi membuat buku ini memiliki kedalaman informasi yang solid. Pembaca tidak hanya disuguhi opini penulis, tetapi juga perspektif langsung dari para pelaku utama di industri AI. Dengan demikian, buku ini menjadi referensi yang kuat bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana AI berkembang dan ke mana arah teknologi ini akan bergerak. Olson menunjukkan bahwa dirinya adalah salah satu jurnalis teknologi paling jempolan di masa sekarang.

Meski Supremacy adalah buku yang menarik dan kaya akan informasi, terdapat beberapa aspek yang agaknya masih bisa diperbaiki. Salah satu kelemahan utamanya adalah kurangnya keseimbangan dalam menggambarkan sisi positif dan negatif dari AI. Buku ini cenderung lebih banyak membahas potensi bahaya AI dan bagaimana AI dapat disalahgunakan oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar, tetapi tidak cukup mengeksplorasi manfaat yang dapat dihasilkan AI bagi masyarakat secara lebih luas.

Selain itu, dalam menjelaskan perlombaan antara OpenAI dan DeepMind, buku ini terlalu berfokus pada tokoh-tokoh individu, sehingga kadang mengabaikan kontribusi dari tim dan komunitas riset yang lebih luas. AI adalah hasil kerja kolaboratif dari ribuan ilmuwan, insinyur, dan akademisi, namun buku ini lebih sering menyoroti ambisi dan strategi para pemimpin perusahaan dibandingkan inovasi yang dilakukan oleh komunitas secara keseluruhan. Hal ini dapat memberikan gambaran yang kurang seimbang tentang bagaimana AI sebenarnya dikembangkan.

Akhirnya, buku ini juga kurang memberikan solusi konkret terhadap tantangan yang dibahas. Banyak halaman dihabiskan untuk mendiskusikan masalah etika, bias, dan regulasi, tetapi tidak cukup banyak ide yang diajukan tentang bagaimana AI dapat dikelola dengan lebih baik di masa depan. Ini membuat buku terasa lebih seperti peringatan daripada sebuah panduan yang memberikan solusi terhadap tantangan yang diangkat. Mungkin akan lebih menarik jika penulis juga menyertakan rekomendasi kebijakan atau pendekatan yang bisa digunakan untuk memastikan AI berkembang dengan cara yang lebih etis dan bertanggung jawab. Walau demikian, saya juga berpikir bahwa Olson tidak perlu dibebani dengan ekspektasi itu mengingat apa yang dilakukannya untuk mengingatkan kita semua sudahlah sangat berharga.

Menuju Cerita AI Berikutnya

Buku ini benar-benar sukses menggambarkan bagaimana perlombaan AI yang awalnya didasarkan pada idealisme telah berubah menjadi perang korporasi demi supremasi teknologi. Dua tokoh utama dalam narasi ini memulai perjalanan mereka dengan visi besar untuk kebaikan manusia, tetapi akhirnya terjebak dalam kebutuhan akan pendanaan dan kekuatan komputasi yang hanya bisa disediakan oleh raksasa teknologi​.

Dampaknya, pengembangan AI kini semakin berada di tangan perusahaan-perusahaan besar, yang memiliki insentif untuk mengutamakan keuntungan daripada etika dan dampak. Regulasi yang ada masih jauh tertatih di belakang, sementara teknologi AI terus berlari dengan kecepatan yang mengejutkan. Masa depan yang ditawarkan AI memang menarik, tetapi juga penuh dengan risiko yang harus dikelola dengan hati-hati​. Seperti yang disimpulkan dalam buku ini, AI bukan hanya sekadar alat, tetapi juga kekuatan yang dapat membentuk ulang dunia. Bagaimana kita mengelola dan mengawasi teknologi ini akan menentukan apakah AI akan menjadi pendorong kemajuan atau justru menjadi ancaman terbesar bagi peradaban manusia​.

Dalam soal itu, kita kini menyadari bahwa memandang AI sebagai perang antara Altman dan Hasabis, atau kemudian antara Microsoft dan Google, tidaklah memadai. DeepSeek R1 telah mengguncang dominasi AS, mengirimkan pesan yang membuat Silicon Valley dan Wall Street menegang. Entah disengaja atau tidak, efek peluncurannya yang bersamaan dengan pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS dan pengumuman projek AI Stargate yang bernilai US$500 miliar, sangatlah dahsyat. Dan, saya tak sabar menunggu hasil jurnalisme investigasi Olson atas geopolitik AI.

Komentar Olson di Bloomberg soal keterbukaan DeepSeek yang jauh di atas OpenAI, dan beberapa poin lainnya yang lebih mengapresiasi DeepSeek di atas perintis AI di AS, saya harapkan akan segera ditindaklanjuti menjadi buku baru yang pasti lebih menarik lagi.

Bacaan terkait

Geger DeepSeek R1

Agar Bisnis Terus Teguh di Dunia yang Penuh Guncangan

Topik: kecerdasan buatanParmy Olsonteknologi AI
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Raja Donal dan Kunci Harta Kerajaan

Selanjutnya

Karena Detoks Digital Itu Tidaklah Cukup

Jalal

Jalal

Provokator Keberlanjutan, ESG and CSR Strategist, dan penggila buku, film, dan duren. Pengarang buku "Mengurai Benang Kusut Indonesia: Jokowinomics di Bawah Cengkeraman Korporasi" (2020).

TULISAN TERKAIT

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Karena Detoks Digital Itu Tidaklah Cukup

Karena Detoks Digital Itu Tidaklah Cukup

Ulasan Pembaca 1

  1. Ping-balik: Karena Detoks Digital Itu Tidaklah Cukup - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In