Kamis, 22 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Menjadi Pribadi Otentik, Bukan Imitasi Orang Lain

Oleh Mujib Rahman
15 November 2021
di Resensi
A A
Resensi Buku Berdamai Dengan Diri Sendiri Mutha Sayekti Psikologi Corner Yogyakarta Reseni oleh Jakarta Book Review

Resensi Buku Berdamai Dengan Diri Sendiri Mutha Sayekti Psikologi Corner Yogyakarta Reseni oleh Jakarta Book Review

Hidup itu bukan atraksi. Anda tak perlu membuktikan apapun, kepada siapapun. Setiap individu memiliki ciri khas sendiri, dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Begitulah Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda tetapi membentuk siklus sosial yang sinergis.

Buku Berdamai Dengan Diri Sendiri yang ditulis Muthia Sayekti ini memberikan jawaban komprehensif mengenai masalah krisis identitas diri yang terkadang menjadi problem hidup.

Pada dasarnya kekurangan, kesalahan, dan ketidaksempurnaan merupakan bagian inheren dalam diri manusia. Sebenarnya tidak seorang pun memiliki kesempurnaan, seperti yang terlihat dari luar.

Manusia juga diciptakan berbeda satu sama lain. Meskipun semua orang tujuan hidunya kesuksesan, tetapi definisi tentang itu sangat beragam. Pola pikir orang juga beda, pandangannya berbeda, sikap dan reaksinya beda. Maka dari itu mengekor pribadi orang lain adalah kenaifan tingkat tinggi.

Berdamai dengan diri sendiri

Dalam kehidupan yang progresif, perkembangan zaman dan teknologi berimplikasi pada perubahan tren dan pranata sosial. Misalnya saat demam K-Pop melanda, kiblat mode berubah, lalu definisi ‘cakep’ pun berubah. Karena kiblatnya adalah Korea, makan kata ‘cakep’ jadi identik dengan wajah tirus oriental, kulit putih, rambut hitam, dan kurus.

BACA JUGA:

Dari Penjara Menuju Lumbung Negara: Refleksi Kebijakan Publik atas “Strategi Fiskal Nabi Yusuf”

Kitab Nahwul Qulub: Asupan Gizi Tambahan Untuk Nalar Para Santri

Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

Dengan asumsi tersebut, orang yang memiliki ciri di luar itu dipaksa melabeli diri dengan ‘jelek’. Ini jelas tidak fair. Bila hal-hal seperti ini diikuti, pada akhirnya menimbulkan sindrom krisis identitas, yang berbuntut berbagai hal negatif, seperti ketidaknyamanan dan hilangnya perasaan damai dalam diri.

Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kekurangan sering dikaitkan dengan nasib. Ini salah besar. Yang memiliki pengaruh pada nasib adalah perbuatan di masa lalu, bukan kekurangan kodrati.

Tanamkan mindset pada diri Anda bahwa kekurangan adalah rahmat. Banyak orang cacat yang mencetak prestasi dunia, karena mereka tidak melihat kekurangan sebagai kartu mati. Contohnya Nick Vujicic, seorang motivator kondang yang terlahir tanpa kedua tangan.

Tak bisa dipungkiri, orang suka menilai, bahkan menjudge secara subyektif. Tentang itu Anda memiliki hak untuk acuh. Acuh ini jangkauannya luas, termasuk pada tren, model pakaian, bahkan pada ekspektasi orang terdekat.

Menurut Muthia Sayekti, sebenarnya berbagai problem tersebut berangkat dari satu persoalan, yaitu hilangnya identitas diri. Maka dari itu jawaban dari persoalan itu sebenarnya hanya tunggal, yaitu berdamai dengan diri sendiri.

Pribadi Otentik

Meski terlihat simpel, namun tak mudah menjadi pribadi yang otentik. Untuk menjadi otentik, orang harus mengenali diri dengan baik. Pengenalan ini diperlukan untuk menggali potensi diri yang terpendam. Hati-hatilah, kepribadian yang otentik dapat pudar karena terlalu banyak mendengarkan omongan orang.

Untuk memberi energi yang kuat pada diri, janganlah berpaku pada hal-hal negatif. Biarkan saja itu ada, tetapi fokuskanlah diri pada hal-hal positif dan peluang.

Tidak ada orang yang sama persis di dunia ini, maka jangan bandingkan dirimu dengan orang lain.

Ketika seseorang mencontoh suatu figur dan tidak dapat mengikutinya, maka akan timbul suatu fenomena yang bernama konformitas. Komormitas akan membuat seseorang merasa kerdil karena tidak sama dengan yang diimpikannya.

Intinya, jadi orang harus otentik. Buku ini mengutip resep Mike Robbins, penulis buku “Be Yourself, because everyone is already taken”, ada lima prinsip dasar yang diperlukan untuk menjadi pribadi yang otentik, yaitu know yourself, transform your fear, express your self, be bold (beranilah), lalu celebrate who you are.

Meskipun identitas diri sudah dipatok di titik tertentu, namun soal mutu, orang harus berubah menjadi lebih baik. Konsep berdamai dengan diri sendiri bukanlah pembenaran atas stagnasi hidup. Bicara soal pribadi otentik itu kaitannya dengan ciri-ciri dan kepribadian, bukan membekukan bakat atau potensi. Bagaimana meningkatkannya? Baca buku ini sampai tuntas.

Muthia Sayekti adalah alumni Sastra Inggris dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Namanya mulai dikenal lewat antologi yang dimuat di buku Mengejar Cahaya Surga. Ini adalah buku keduanya, setelah sebelumnya menulis buku The Art of Listening.

Judul: Berdamai dengan Diri Sendiri Seni Menerima Diri Apa Adanya

Penulis: Muthia Sayekti

Genre: Psikologi

Penerbit: Psikologi Corner Yogyakarta

Edisi: Cetakan I, Maret 2020, Hard Cover

Tebal: 216 Halaman

ISBN 978-623-244-173-6

Diresensi Oleh Jakarta Book Review

Topik: Headline
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Why We Sleep, Mengapa Kita Tidur

Selanjutnya

Buku Tokoh Revolusi DI/TII Aceh Resmi Rilis

Mujib Rahman

Mujib Rahman

Wartawan Senior

TULISAN TERKAIT

nabi yusuf

Dari Penjara Menuju Lumbung Negara: Refleksi Kebijakan Publik atas “Strategi Fiskal Nabi Yusuf”

2 Oktober 2026
nahwul qulub tata bahasa ruhani

Kitab Nahwul Qulub: Asupan Gizi Tambahan Untuk Nalar Para Santri

30 September 2026
Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

Habis Haflah, Terbitlah Arah: Catatan Kritis atas Buku Kang Yanuar Tentang Masa Depan NU

7 September 2026
menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Buku Tokoh Revolusi DI/TII Aceh Resmi Rilis

Buku Tokoh Revolusi DI/TII Aceh Resmi Rilis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

penerbit rene turos

16 Tahun Penerbit Rene Turos: Bagikan 1.600 Buku kepada Pembaca dan Komunitas

20 Oktober 2026
Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

Rayakan 16 Tahun, Rene Turos Group Bagikan 1.600 Buku untuk Pembaca

17 Oktober 2026
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In