Minggu, 11 Oktober 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

Oleh Redaksi JBR
10 Oktober 2026
di Berita, Berita Buku
A A
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

BEKASI —Pakar hukum tata negara Feri Amsari mengkritik praktik blusukan pemimpin negara yang dinilainya perlu dikembalikan pada tujuan utamanya: memahami kondisi masyarakat secara langsung, bukan sekadar menjadi tontonan publik. Kritik itu disampaikan dalam peluncuran dan bedah buku Politik Kaum Tertindas yang digelar penerbit Turos Pustaka bersama IBP Library di Djon Books & Coffee, Bekasi (10/10).

Dalam diskusi bertajuk Penguasa Dzolim, Feri menegaskan bahwa kepedulian para pemimpin terhadap rakyat semestinya berangkat dari kesadaran akan tanggung jawab, bukan kebutuhan membangun citra.

“Kita harus memurnikan blusukan, karena sekarang blusukan disertai dengan mata yang banyak. Sedang dahulu, Nabi Daud hingga Umar bin Khattab tidak butuh banyak mata untuk itu,” ujar Feri.

Menurutnya, kehadiran para pemimpin di tengah masyarakat tidak serta-merta menunjukkan keberpihakan. Hal yang lebih penting ialah ketulusan untuk mendengar, memahami, dan menyelesaikan persoalan riil rakyat.

BACA JUGA:

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

Bedah “Panduan Melawan Tirani”, Media Wahyudi Askar Bongkar Struktur yang Membuat Tirani Bertahan

Pembicara lain, Alwi Johan, juga turut menyoroti bahaya pujian yang berlebihan di sekitar kekuasaan. “Pemimpin itu tidak boleh terlena dengan pujian-pujian, karena pujian itu sesungguhnya tidak ada yang genuine,” tegasnya.

Keduanya menggarisbawahi pentingnya menjaga integritas kepemimpinan melalui kepekaan terhadap persoalan masyarakat dan keterbukaan terhadap kritik.

Diskusi tersebut berangkat dari buku Politik Kaum Tertindas: Bagaimana Islam Membongkar Keculasan Penguasa dan Mendorong Umat untuk Bersuara, terjemahan kitab Nashihah al-Muluk karya Imam al-Ghazali (1058–1111 M). Diterjemahkan oleh Afifah Ahmad dan diterbitkan Turos Pustaka pada September 2026, buku ini mengulas tanggung jawab moral penguasa, penegakan keadilan, serta konsekuensi penyalahgunaan kekuasaan dalam perspektif etika politik Islam.

Dalam pemikiran al-Ghazali, jabatan merupakan amanah yang menuntut pertanggungjawaban, bukan hak istimewa untuk mengejar kemewahan atau kepentingan pribadi. Prinsip ini menjadi landasan untuk meninjau hubungan penguasa dan masyarakat, terutama terkait transparansi, akuntabilitas, dan keberanian menyampaikan kritik.

Sebagai penulis pengantar buku sekaligus dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Andalas, Feri mengajak peserta mendiskusikan relevansi pemikiran tersebut dengan persoalan kepemimpinan kontemporer.

Kegiatan yang berlangsung pukul 16.00–17.30 WIB itu dihadiri sekitar 65 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, pegiat literasi, dan masyarakat umum. Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi pemaparan dan tanya jawab, kemudian ditutup dengan penandatanganan buku oleh Feri Amsari.

Melalui kolaborasi ini, Turos Pustaka dan IBP Library berupaya memperluas akses terhadap khazanah pemikiran Islam klasik sekaligus membuka ruang diskusi kritis mengenai kekuasaan, keadilan, dan tanggung jawab pemimpin.***

Topik: bedah bukuferi amsaripolitik kaum tertindasRene Turos Groupturos pustaka
SendShareTweetShare
Sebelumnya

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

Selanjutnya

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Redaksi JBR

Redaksi JBR

You are what you read, you read what we review.

TULISAN TERKAIT

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026
IMG_0105-scaled

Bedah “Panduan Melawan Tirani”, Media Wahyudi Askar Bongkar Struktur yang Membuat Tirani Bertahan

24 Agustus 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca "Politik Kaum Tertindas"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

Feri Amsari: Prabowo Harus Baca “Politik Kaum Tertindas”

10 Oktober 2026
politik kaum tertindas

Bedah Buku “Politik Kaum Tertindas”, Feri Amsari Kritik Praktik Blusukan yang Kehilangan Esensi

10 Oktober 2026
in this economy

In This Economy: Yang Lain Boleh Efisiensi, Kecuali Literasi

7 Oktober 2026
GENTLE REMINDER

Renebook Hadirkan Ruang Refleksi Diri Lewat Meaning Sharing Session di IIBF 2026

5 Oktober 2026
nabi yusuf

Dari Penjara Menuju Lumbung Negara: Refleksi Kebijakan Publik atas “Strategi Fiskal Nabi Yusuf”

2 Oktober 2026
nahwul qulub tata bahasa ruhani

Kitab Nahwul Qulub: Asupan Gizi Tambahan Untuk Nalar Para Santri

30 September 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In