Kamis, 18 Juni 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Alkohol Sumber Kebahagiaan? Begini Menurut Ibnu Sina

Oleh Rizal Siddiq
22 Mei 2023
di Berita Buku
A A
alkohol-sumber-kebahagiaan

Islam secara tegas mengharamkan umatnya meminum minuman keras. Sifat miras yang memabukkan membuatnya termasuk dalam kategori khamr. Meski begitu, meminum alkohol kini menjadi sebuah kebiasaan yang jamak dilakukan remaja dan dewasa. Salah satu alasan mereka meminum alkohol yakni untuk meraih kebahagiaan yang belum mereka dapatkan dalam hidup. Lantas, bagaimana pendapat ulama tentang pernyataan bahwa alkohol dapat menjadi sumber kebahagiaan? Apakah ini bisa menghalalkan konsumsi alkohol?

Ibnu Sina, seorang filsuf, ilmuan, dan dokter muslim yang terkemuka di dunia. Ia dengan tegas membantah pernyataan ini. Dalam buku Kitab Kesehatan Mental bagian Resep Bahagia Ibnu Sina, ia menyatakan bahwa keadaan orang yang terpengaruh alkohol sangat siap menerima keadaan tertentu cukup dipantik dengan penyebab yang paling lemah.

Analoginya, sebatang kayu dan belerang akan menghasilkan keadaan yang berbeda jika dipantik dengan api. Belerang akan dengan mudah terbakar meskipun hanya terkena percikan api yang kecil. Dengan api yang sama, kayu tidak akan terbakar. Begitu pun dengan jiwa, ketika jiwa memiliki ruh yang punya kesiapan untuk keadaan bahagia, ia akan bahagia meski hanya dengan penyebab paling lemah.

Itulah yang para pengonsumsi alkohol rasakan. Ia merasakan kebahagiaan yang begitu besar sehingga muncul asumsi bahwa alkohol memang sumber kebahagiaan. Padahal, faktanya tidak demikian.

Ketika alkohol masuk ke dalam tubuh, ia melahirkan ruh yang begitu banyak. Temper dan unsur ruh menjadi seimbang serta memunculkan cahaya yang sangat terang. Dengan begitu, ruh menjadi lebih siap menerima kebahagiaan meski dengan pemantik yang paling kecil.

BACA JUGA:

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

Ruh manusia juga lebih tergoda dengan kebahagiaan yang instan daripada menjalani proses yang sulit. Kenikmatan dari alkohol membuat peminumnya terlena dengan angan-angan indah daripada memperhitungkan akal sehat.

Penyebab Bahagia dan Sedih

Bahagia dan sedih pasti memiliki sebab. Ada penyebab yang kuat dan ada pula yang lemah. Ada yang dikenali dan tidak dikenali. Di antara kebahagiaan atau kesedihan yang tidak dikenali, ada penyebab yang sering dibiasakan. Karena selalu dibiasakan, perasaan kita menjadi tumpul dan tidak merasakannya.

Contohnya, ketika orang perkotaan pergi ke desa, ia akan bahagia melihat pemandangan yang indah. Namun, ketika ia telah tinggal di desa itu bertahun-tahun, pemandangan indah tidak lagi bisa menyebabkan kebahagiaan karena sudah sering dilihat.

Ada tiga hal utama yang dapat menyebabkan kebahagiaan, di antaranya: pertama, keadaan indra yang menyaksikan alam sekitar. Kedua, memiliki teman, tidak merasa sendirian. Ketiga, tercapainya suatu keinginan seketika dan melanjutkan tujuan tanpa gangguan.

Di samping ketiga penyebab di atas, hal-hal lain seperti cita-cita, masa lalu, angan-angan, mengobrol, kagum, menolong, berbohong, dan hal-hal kecil lainnya juga bisa memicu kebahagiaan. Hal itu bergantung kepada keinginan dan kebiasaan seseorang.

Penyebab kesedihan juga berlaku sama seperti kebahagiaan dalam hal kuat dan lemahnya pengaruh. Di antara penyebab kesedihan antara lain: pertama, mengingat bahaya, rasa sakit, kedengkian, dan interaksi serta pergaulan yang keras. Kedua,overthinking akan hal-hal menakutkan yang mungkin datang. Ketiga, tidak dapat mengejar tujuan. Keempat, berhenti dari pekerjaan, memikirkan musibah yang tiba-tiba terjadi.

Dengan berbagai penyebab bahagia dan sedih, keduanya bisa terjadi pada setiap manusia. Namun, kesiapan jiwa yang menerima penyebab ini hanya bisa merespons satu sisi. Ketika menghadapi penyebab kebahagiaan, jiwa tidak bisa memberikan reaksi kepada penyebab dari sisi lain, yaitu kesedihan. Oleh karena itu, orang yang mabuk akan tetap bahagia dengan salah satu penyebabnya tanpa merasakan sedih, ataupun terus larut dalam kesedihan tanpa bahagia meskipun penyebabnya lemah.

Jadi, Apakah Alkohol Sumber Kebahagiaan?

Ibnu Sina, seperti tertulis di atas, menolak tegas anggapan bahwa alkohol dapat menjadi sumber kebahagiaan. Alkohol hanya membuat kerusakan dalam jiwa hingga melahirkan ruh-ruh dengan kesiapan untuk bahagia meski hanya dengan penyebab yang lemah. Maka dari itu, status alkohol sebagai barang haram dalam Islam tidak berubah.

Pernyataan Ibnu Sina terkait hal ini ada dalam buku Kitab Kesehatan Mental yang ditulis oleh Abu Zaid al-Bakhi. Di dalamnya terdapat tata cara menjaga dan memelihara kesehatan mental, dilengkapi juga dengan resep bahagia dari Ibnu Sina. Review bukunya dapat Anda lihat di sini.

Topik: alkoholalkohol sumber kebahagiaanibnu sinakebahagiaanKesehatan mental
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Bahas Tasawuf di Kampus, UIN Jakarta Gelar Bedah Buku “Apa itu Tasawuf?” bersama Turos Pustaka

Selanjutnya

Beradaptasi atau Musnah, Masa Depan Toko Buku di Ujung Tanduk?

Rizal Siddiq

Rizal Siddiq

Redaktur Jakarta Book Review

TULISAN TERKAIT

text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
Selanjutnya
Selanjutnya
masa-depan-toko-buku

Beradaptasi atau Musnah, Masa Depan Toko Buku di Ujung Tanduk?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

menikah

Menikah Bukan Cuma Soal ‘I Do’: Nasihat dan Pandangan Realistis dari Imam al-Ghazali

13 Juni 2026
text hip

Tren “Text Hip” Dongkrak Literasi di Korea Selatan

11 Juni 2026
buku cetak australia

Survei Creative Australia: 14,4 Juta Warga Setia Membaca, Buku Cetak Belum Tergantikan

8 Juni 2026
future history

Fiksi Ilmiah Bangkit Lagi: Penghargaan “Future History” Musim Kedua Tawarkan Hadiah Lebih Besar dan Kategori Skenario

5 Juni 2026
sayyidat al-qamar

Sayyidat al-Qamar: Novel Fenomenal dari Padang Pasir

4 Juni 2026
ancaman-nyata

Ancaman Nyata di Balik Fiksi: Saat AI dan Kiamat Ekologi Menjadi Karib

3 Juni 2026

© 2026 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In