Rabu, 1 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Ulama Jomblo: Antara Warisi Ideologi dan Biologi

Oleh Erdy Nasrul
4 November 2022
di Resensi
A A

Fahruddin Faiz dalam menyampaikan prolog dari buku ini merasa malu dan tidak pantas. Selain beliau sudah menikah, ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Fahrudin Faiz masih dangkal. Jauh dari kata dekat ketimbang ulama-ulama yang disebutkan dalam buku ini.

Menikah adalah sesuatu yang memang dianjurkan dalam agama. Manusia yang memiliki hawa nafsu dan agar tidak jatuh zina, maka agama memberi wadah untuk menyalurkan hasrat atau nafsu yang dimiliki manusia. Dengan menikah, manusia bisa meneruskan keturunan yang shaleh, mempelajari islam dari para leluhur dan menyampaikannya pada generasi berikutnya.

Mafhum diketahui bahwa pernikahan adalah urusan fundamental dan kebutuhan pokok hidup manusia. bahkan ada salah satu hadits menyatakan dengan tegas bahwa menikah adalah bagian dari kesunnahanku, barang siapa tidak suka sunnahku, maka tidak termasuk dari kelompokku. Pertanyaan sedernhana yang muncul di benak kita adalah apakah para ulama yang notabane-nya adalah penerus Nabi tidak senang dengan sesuatu yang sngat dianjurkan oleh Nabi. seolah-olah, ini bertentangan dengan posisi mereka yang disebut dengan ulama.

Buku ulama jomblo

Kehadiran buku ulama jomblo yang diterjemah dari kitab al-ulama’ aluddzab alladzina atsaru al-ilma la al-zawaj karya Abdul Fattah Abul Ghaddab memaparkan sekelumit kisah dan alasan para ulama tidak menikah. Pilihan untuk membujang atau tidak menikah bukan sembarang pilihan, mereka bukan tidak paham mengenai hukum menikah yang sangat dianjurkan oleh agama. Akan tetapi, mereka lebih memilih memendam keinginan duniawi demi ilmu pengetahuan.(6)

Sebelum membahasa para tokoh, penulis menyebutkan manfaat dan mudharat dalam pernikahan. Jomblo seumur hidup adalah pilihan bukan nasib. Mereka memilih untuk diri mereka sendiri dengan kecerdasan mata hati. Keutamaan mencari ilmu, menurut mereka, lebih unggul ketimbang kebaikan pernikahan. Mereka memprioritaskan perintah satu dari pada perintah lainnya.

BACA JUGA:

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Para ulama membujang disebabkan karena kerinduan dan kecintaannya yang dalam terhadap ilmu pengetahuan. Mereka mengumpulkan, menyebarkan serta membukukan ilmu agar ilmu tersebut semakin berkembang biak menempati posisi ruh dan jasad. Kedua, terlepas dari kebaikan dan keutamaannya, para ulama menilai bahwa pernikahan mengurangi waktu merka untuk mencari yang luhur dan mulia. Mereka juga beranggapan bahwa pernikahan adalah batu sandungan yang dapat menghambat laju mereka dalam mencari ilmu. Mereka lebih memprioritaskan keuatamaan yang universal ketimbang urusan pribadi.

Anjuran jomblo

Dalam kitabnya, al-Hafidz al-Katib al-Baghdadi menganjurkan bagi para penuntut ilmu untuk menjomblo sebisa mungkin, agar kesibukan kewajiban-hak suami-istri dan mencari nafkah tidak memotong proses kesempurnaan mencari ilmu.” (23)

Misal, dari 24 jam sehari-semalam, sebagaimana yang disebutkan oleh Abu al-Hasan bin al-Ithar, Imam Nawawi menghabiskan waktu belajar dua jam pelajaran kitab al-wasit, satu jam kitab muhaddzab, satu jam pelajaran kitab al-jam’u baina al-shahihain, satu pelajaran kitab shahih muslim, satu pelajaran al-luma’, satu jam tashrif, satu jam ushul fiqih, satu jam perlajaran tentang ulum al-hadits dan satu jam ilmu ushul al-din atau akidah.(130) Maka, dapat dipahami bahwa imam Nawawi benar-benar tidak sempat untuk memikirkan pernikahan sama sekali karena kecintaan dan keinginannya untuk terus belajar.

Ada banyak tokoh yang diceritakan dalam buku ini ulama yang memilih membujang sampai akhir hayatnya. Imam Nawawi, Ibnu Taymiyah, Syekikh Basyir al-Ghazzi (ulama fiqih), ibn Jarir al-Thabari, al-Zamakhsyari (mufassir) al-Sijzi (ahli astronomi) adalah sederet ulama yang tidak menikah sampai akhir hayatnya. Sejarah mencatat bahwa mereka benar-benar sibuk mencari ilmu, menulis dan menyebar luaskannya.

Para ulama lebih memilih untuk mewarisakan ideologi ketimbang warisan biologi. Meski sama-sama meninggalkan pahala, namun para ulama lebih condong dan cenderung mengutamakan warisan ideologi ketimbang warisan biologi. mereka lebih mengedepankan warisan teladan, keluhuran akhlak dan karya yang bisa dinikmati para generasi berikunya.

Buku : Ulama Jomblo (rela tidak beristri demi ilmu)
Penulis : Abdul Fattah Abu Guddah
Penerjemah : Yayan Mushthafa
Penerbit : Penerbit Kalam
ISBN : 978-602-35746-8-5
Terbitan : Maret, 2020
Peresensi : Musyfiqur Rozi

Topik: ilmuulama
SendShareTweetShare
Sebelumnya

IIBF Harus Menginternasionalisasikan Buku Indonesia

Selanjutnya

Tuah Islam Bagi Jagat Raya: Manifestasi Rahmat Islam Bagi Sekalian Alam

Erdy Nasrul

Erdy Nasrul

Pegiat literasi

TULISAN TERKAIT

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Tuah Islam Bagi Jagat Raya: Manifestasi Rahmat Islam Bagi Sekalian Alam

Tuah Islam Bagi Jagat Raya: Manifestasi Rahmat Islam Bagi Sekalian Alam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In