Jakarta Book Review – Serangkaian kegiatan pada acara Pekan Sastra Jakarta memasuki hari terakhir pada hari ini (16/10). Acara yang diadakan di area Taman Ismail Marzuki itu terdapat banyak sesi diskusi dan tips-tips dalam menulis buku. Dengan menghadirkan komunitas literasi, penulis buku, dan pegiat literasi lainnya, acara Pekan Sastra Jakarta yang digelar dari tanggal 11 hingga 16 Oktober 2025 ini dipenuhi dengan pengunjung yang berbeda-beda tujuan.
Pada hari ke-3 Pekan Sastra Jakarta menghadirkan narasumber Dea Anugrah dan Aya Canina dalam sesi yang bernama “Menulis dalam Berbagai Medium”. Sesi tersebut diadakan di Aula Lt.4 PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Awal mula berprofesi sebagai penulis
Dea Anugrah merupakan penulis buku yang sebagian karyanya merupakan esai. Salah satunya adalah buku yang berjudul “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya” yang diterbitkan oleh Mojok.co pada tahun 2019 dan diterbitkan kembali oleh Shira Media pada tahun 2021. Selain penulis buku, ia juga penulis puisi, cerita pendek, dan berbagai laporan jurnalistik.

Narasumber berikutnya pada sesi “Menulis dalam Berbagai Medium”, yaitu Aya Canina yang merupakan mantan vokalis grup musik bernama Amigdala. Salah satu lagunya menjadi judul di film layar lebar, yaitu “Kukira Kau Rumah”. Berawal dari puisi yang ia tulis di Jalan Braga, Bandung, puisi tersebut menjadi lagu yang banyak didengarkan oleh masyarakat Indonesia. Bukunya yang berjudul “Ia Meminjam Wajah Puisi” adalah kumpulan puisi-puisi dari Aya Canina sebagai jalan hidupnya.
Dari dua narasumber tersebut terlihat bahwa menulis merupakan langkah awal dalam menciptakan karya-karya yang lain. Dea Anugrah dan Aya Canina dalam sesi “Menulis dalam Berbagai Medium” juga menceritakan bagaimana akhirnya mereka bisa masuk ke dalam penulis profesional. Mereka mempunyai awal yang berbeda, tetapi langkah awal tersebut menjadi pondasi yang kuat untuk terus bekarya dalam dunia literasi.
Dalam sesi tersebut Dea Anugrah bercerita dalam memulai karirnya sebagai penulis. Ia membantu gurunya untuk mengirim e-mail dan e-mail tersebut adalah tulisan dari gurunya yang dibayar. Betul, “dibayar” menjadi hal baru bagi Dea Anugrah saat itu ketika masih kelas 2 SMA. Di masa-masa labil tersebut, Dea belum bisa menentukan akan bekerja atau berkarir sebagai apa di masa depannya. Mendengar bahwa gurunya mengirim tulisan, sepertinya hal itu adalah panggilan jiwa baginya.
“Karena waktu itu, tiap hari main Counter-Strike di Warnet, baru tahu kalau ada profesi yang dibayar dengan menulis dari guruku itu. Dan itu sepertinya panggilan untukku” ujar Dea Anugrah ketika ditanya bagaimana awal mula menjadi seorang penulis oleh moderator.
Berbeda dengan Aya Canina yang mengawali dari tulisan puisi. Ia banyak menuliskan puisi-puisi untuk disimpan secara pribadi, maupun ada yang dipublikasikan dengan medium-medium lain. Sebelum lagu “Kukira Kau Rumah” didengar oleh banyak orang, Aya banyak menorehkan perasaannya di atas kertas. Hingga pada akhirnya, ia menuliskan buku dengan kumpulan-kumpulan puisi. Ia tidak hanya fokus kepada karya-karya puisi saja dalam menulis, tetapi juga aktif menyuarakan isu-isu yang beredar di kalangan perempuan.
“Aku itu aktif menulis puisi di tahun 2019 sampai 2020. Dan saat itu masih menjadi seorang musisi” ujar Aya Canina ketika menceritakan pengalaman awal sebagai penulis puisi.
Menulis sebagai tempat terakhir idealisme
Dea Anugrah dan Aya Canina sepakat bahwa menulis adalah aktivitas yang dapat dilakukan sebebas-bebasnya, menembus batasan-batasan ruang dan waktu. Menulis dapat menjadi karya-karya yang dapat dinikmati oleh orang lain, maupun diri sendiri. Hal-hal yang kita pikirkan, kita lakukan, dan pandangan atas suatu isu yang kontroversial harus dapat ditulis dengan sejujur-jujurnya di atas kertas.
Dea Anugrah dalam beberapa bukunya menuliskan esai dan juga cerita pendek dari pengalaman hidupnya. Mungkin kata-kata yang paling tepat dalam menggambarkan bagaimana Dea Anugrah menulis adalah seperti perkataan dari Charlie Chaplin.
“life is a tragedy when seen in close-up, but comedy in long-shot” -Charlie Chaplin
Dalam beberapa cerita dalam bukunya, banyak kejadian yang sebenarnya jika dilihat-lihat sangat tragis, tetapi jika dipikir kembali akan menjadi sesuatu yang membuat kita tertawa. Hal itu menjadi nilai plus bila menjadi seorang penulis karena mempunyai kesempatan yang tidak terbatas. Menjadi penulis bisa bercanda di dalam tulisan yang dibuatnya. Dalam berbagai kesempatan, walaupun Dea banyak dikenal dengan sebutan lain seperti founder Malaka Project misalnya. Ia tetap dipanggil sebagai penulis.
Hal itu juga serupa di Aya Canina ketika menulis puisi maupun buku. Ia ingin ketika sedang menulis sebuah karya puisi, tidak ingin dicampuri oleh hal-hal lain, selain idealismenya sendiri. Puisi itu adalah menggambarkan perasaan melalui tulisan, sehingga apapun hasil dari puisi yang ditulis adalah hal yang alami dari isi hari penulis.
“Kalau ditanya soal idealisme menulis ya, ketika aku menulis puisi, aku nggak suka diatur-atur” ucap Aya ketika ditanya terkait kebebasan menulis oleh Jakarta Book Review.
Menulis di platform yang berbeda

Dalam sesi ini juga, mereka menganggap bahwa apapun title-nya dalam sebuah pekerjaan. Mereka ingin disebut sebagai penulis, bukan sebagai produk final (buku atau reportase), tetapi pada prosesnya. Entah itu membuat film, lagu, dan cerita pendek; keahlian menulis menjadi proses utama dalam membuat sebuah produksi.
Pada akhir acara “Menulis dalam Berbagai Medium” ini, Dea Anugrah dan Aya Canina memberikan pernyataan terakhirnya sebelum menutup sesi ini. Mereka meyakinkan orang-orang untuk mulai menulis apapun alasannya. Entah hanya untuk sekadar keperluan pribadi, pekerjaan, atau hanya mengeluarkan isi-isi pemikiran.
Aya Canina berpendapat sebagai penulis, tugasnya hanyalah menulis. Banyak orang yang baru memulai menulis merasa takut bahwa hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Misalnya, baru menulis 1 paragraf, tetapi menganggap bahwa tulisannya jelek atau tidak layak baca. Hal itu menjadi atensi bagi Aya untuk menyampingkan hal-hal yang minor ketika proses menulis.
“Kita sebagai penulis, tugas kita itu hanya menulis. Nanti tugas editor lain lagi yang mengerjakan. Jadi jangan khawatir untuk menulis dan memikirkan hasilnya” ucap Aya Canina ketika memberikan pernyataan terakhir sebelum akhir sesi ini.
Dea Anugrah memberikan saran agar menulis sesuai dengan formatnya. Terkadang menulis esai lebih cocok dalam medium tertentu dibandingkan medium lain. Kanal website seperti Medium ataupun WordPress mungkin lebih cocok untuk format esai yang panjang dan lebih menggambarkan sesuatu lewat tulisan. Akan tetapi, puisi dengan tulisan yang pastinya lebih sedikit dibandikan esai, di dalam format digital lebih cocok di media sosial.
Ia menyatakan bahwa medium yang akan dipakai untuk menampilkan karya sastra, harus disesuaikan dengan kepadatannya. Dan setiap medium yang ada sekarang ini, mempunyai kelebihannya masing-masing. Para penulis, pastinya sudah melakukan trial and error dalam menciptakan dan mempublikasikan karyanya. Semakin lama menulis, pastinya mengetahui kenggulan masing-masing platform yang ada.*)











