Rabu, 1 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Bahasa Kucing: Menemani Manusia, Menumpas Kesepian

Review Buku "Kitty Language" karya Lili Chin, Penerbit Renebook

Oleh Maria Dominique
18 Juli 2025
di Resensi
A A
Bahasa Kucing: Menemani Manusia, Menumpas Kesepian

Bahasa Kucing: Menemani Manusia, Menumpas Kesepian – Review Buku “Kitty Language” karya Lili Chin, Penerbit Renebook

“Until one has loved an animal, a part of one’s soul remains unawakened.” Sebelum seseorang mencintai seekor hewan, bagian dari jiwanya belum benar-benar terbangun. (Anatole France, peraih Nobel Sastra tahun  1921).

“Kucing tidak pernah memiliki sejarah,” tulis Borges Jorge Luis Borges dalam puisi “A un gato”, yang terdapat dalam kumpulan El oro de los tigres (1972). “kita mencari-cari engkau dengan sia-sia; lebih terpencil bahkan dari Gangga atau matahari yang tenggelam,” kata Borges.

Borges sedang berbicara pada makhluk yang tak tunduk pada sejarah manusia, tak takluk pada kronologi, namun tetap mencintai dengan caranya yang sunyi. Mungkinkah kucing berbicara? Bisakah kita berdialog dengannya?

Sains membuktikan: betul bahwa kucing tidak mencatat sejarahnya sendiri. Tapi ia bisa bercerita pada kita, melalui bahasa tubuhnya. Dan dalam cara mereka menatap manusia dengan kedipan yang tak pernah sia-sia.

BACA JUGA:

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Kucing Berjasa bagi Manusia

Suatu pagi di Jenewa, dalam laboratorium yang lebih akrab dengan instrumen ketimbang belaian, para peneliti menemukan bahwa ingatan manusia yang hidup bersama kucing bekerja seperti nyala lilin yang tak padam di terpa usia. Mereka, para pemilik kucing, menunjukkan ketahanan kognitif: memori yang tidak cepat pudar, daya bicara yang tetap menyala. Seolah suara dengkur itu mengisi ruang-ruang hening dalam kepala, menjaga agar kesepian tak menjelma demensia.

Sementara itu, di Tokyo, seekor kucing menjentikkan ekornya ketika namanya disebut. Ia tidak sekadar bereaksi pada suara, tapi pada sesuatu yang lebih pelik: asosiasi. Ia mengenal. Ia tahu nama dirinya, dan tahu siapa yang menyebutkannya. Sebuah studi dari Sophia University mengabadikan momen ini bukan sebagai anekdot, tapi bukti. Di balik keangkuhan mereka, kucing ternyata menyimpan sesuatu yang sangat manusiawi: kemampuan membangun relasi melalui identitas.

Lalu kita beralih ke Sussex, di mana kedipan lambat menjadi jembatan antarspesies. Slow blink—itulah nama teknisnya. Tetapi di luar laboratorium, kita menyebutnya percaya. Saat manusia mengedipkan mata pelan, dan kucing membalasnya, yang terjadi bukanlah sekadar interaksi visual. Itu adalah sejenis pertemuan batin, yang tak bisa diterjemahkan ke dalam kata, tapi hanya bisa dirasakan seperti kehadiran seseorang di tengah kesepian.

Di Los Angeles, ekspresi kucing didokumentasikan satu per satu. Bukan oleh pelukis, melainkan oleh peneliti. Sebanyak 276 ekspresi terekam dari 50 ekor kucing: geram, tenang, riang, ingin bermain. Sains memanggilnya “korpus ekspresi wajah.” Tetapi bagi kita, itu adalah fragmen-fragmen perasaan yang selama ini kita duga cuma milik manusia. Kini kita tahu: bahkan diam kucing pun adalah bahasa.

Dengan dukungan sains ini, hubungan kita dengan kucing bukan hanya soal peliharaan, tapi kemitraan emosional. Kita tak cuma merawat mereka—kita diajak berdialog

Dalam jagat penelitian terbaru, kucing ternyata lebih dari sekadar peliharaan nan manja—mereka adalah entitas sosial yang cerdas dan komunikatif.

Kedip-kedip Manja

Kucing “berbicara” kepada manusia. Beberapa kajian ilmiah mutakhir meneliti komunikasi antarspesies, khususnya antara kucing dan manusia,  melalui pendekatan perilaku dan neurosains. Penelitian dari PubMed menggunakan paradigma social referencing, menunjukkan bahwa kucing dapat menangkap petunjuk emosional manusia dan menggunakannya untuk menentukan perilaku mereka.

Misalnya, saat pemilik menunjukkan sikap takut terhadap objek asing, 79 % kucing menoleh kepada pemilik sebelum atau sesudah melihat objek tersebut, dan banyak di antaranya menyesuaikan reaksi (menghindar atau mendekat) sesuai nada suara dan mimik wajah manusia. Itu menandai kemampuan “berbicara” non-verbal yang nyata antara spesies.

Studi dari University of Sussex mengungkap dua mekanisme penting: purring solicitasi dan slow blink alias kedip-kedip manja mata si kucing. Kucing menggunakan getaran suara purr yang diperkaya frekuensi tinggi —mirip tangis bayi— untuk meningkatkan respons empati manusia. Suara purr-nya itu lho, bikin kita tenang dan ingin memanjakan dia. Agak manipulatif ya? Iya sih.

Kucing juga membalas kedipan lambat dari manusia dengan kedipan serupa, yang menunjukkan bentuk komunikasi damai dan meningkatkan rasa percaya. Bahkan, kucing yang merespons slow blink dari manusia lebih cepat diadopsi di shelter.

Riset multimodal dari MDPI menekankan bahwa komunikasi efektif tidak hanya melalui suara atau bahasa tubuh tunggal, tetapi lewat kombinasi keduanya. Ketika visual (gaze, postur) dan vokal (meong, dengkuran) digabung, akurasi manusia dalam mengenali emosi kucing meningkat signifikan—memberi bukti bahwa kucing dan manusia membangun dialog dua arah di ranah kepekaan dan persepsi.

Kajian review Frontiers in Psychology menyoroti perbedaan domestikasi: meskipun anjing lebih kooperatif, kucing yang sebelumnya hidup soliter kini menunjukkan adaptasi sosial. Mereka menggunakan pandangan (“gaze”) sebagai sinyal afinitas dan menggunakan bau, suara, serta kontak fisik untuk membentuk ikatan dengan manusia. Ini menunjukkan bahwa domestikasi telah membentuk keahlian kognitif dan emosional antarspesies pada kucing ().

Secara keseluruhan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antarspesies antara manusia dan kucing bukan sekadar intuisi imajinatif, tapi nyata, terukur, dan saling berpengaruh—melalui suara, mata, postur, dan bau. Mereka membuktikan bahwa hubungan manusia–kucing adalah proses biologis dan emosional yang saling “berbicara,” bukan hanya bahasa manusia yang dipaksakan kepada mereka.

Menurut tim dari Kyoto University, purring dan vokalisasi kucing memiliki dasar genetik: variasi gen reseptor androgen memengaruhi frekuensi purring mereka—kucing dengan versi gen pendek cenderung mendengkur lebih sering, sedangkan jantan membawa lebih banyak vokalisasi pada manusia, dan betina kadang menunjukkan agresi terhadap orang asing  . Temuan ini menunjukkan bahwa evolusi domestikasi tidak hanya membentuk tubuh, tetapi juga bahasa dan ikatan emosional antara manusia dan kucing.

Penelitian lainnya dari Astin Azabu University juga mengungkap bahwa kucing dapat mengaitkan kata dengan gambar dalam hitungan menit—bahkan lebih cepat dibanding bayi manusia  . Sementara itu, studi multimodal menunjukkan bahwa komunikasi visual ditambah vokal—seperti tubuh, ekor, dan suara bersama—memudahkan manusia memahami perasaan kucing sampai lebih dari 90 % akurasi, dibanding saat hanya mengandalkan vokal saja (). Semua ini semakin mengilustrasikan bahwa memahami “bahasa kucing” bukan sekadar soal mengira-ngira, melainkan belajar mengenali sinyal biologis dan emosional yang nyata.

Komunikasi Lintas Spesies

Dalam buku Kitty Language, Lili Chin tidak sedang menulis buku tentang kucing. Ia sedang membongkar sistem komunikasi lintas spesies yang tersembunyi di balik sepasang telinga yang mendengkur, ekor yang menekuk pelan, dan mata yang tak pernah bisa berdusta. Buku ini seperti kamus, tapi bukan yang dipenuhi definisi kaku—melainkan lembar demi lembar ilustrasi yang membawa kita lebih dalam ke semesta keheningan seekor kucing.

Buku ini berwarna. Bukan hanya secara grafis, tapi juga dalam rasa. Setiap halaman memancarkan kehangatan yang jujur, seolah pembaca diajak bercakap langsung dengan si kucing tanpa penerjemah. Lili Chin tahu betul bahwa bahasa kucing bukan bunyi, melainkan gerak: telinga yang bergidik, ekor yang melambai pelan, postur tubuh yang berubah menjadi tanda tanya, tanda seru, atau bahkan titik dua.

Yang menggetarkan adalah bagaimana buku ini menata bab-babnya seperti struktur tubuh seekor kucing yang hidup: dari aroma, telinga, mata, hingga ke suara dan permainan. Seperti anatomi, tetapi tidak untuk dibedah, melainkan untuk dicintai.

Pada bagian “Aroma”, kita diajak menyelami dunia bau-bauan yang bagi manusia mungkin tak berarti, tapi bagi kucing adalah surat cinta, peringatan, atau salam hormat. Kucing hidup dalam lapisan aroma, menandai wilayah, mengenali jejak, dan bahkan menenangkan diri melalui harum tubuh sendiri.

Lalu ke “Telinga”—dua segitiga kecil yang bisa menampung badai. Ketika telinga kucing mengarah ke belakang, itu bukan sekadar gerakan naluriah, tapi peringatan. Ketika ia merunduk dan menekan telinganya ke belakang kepala, itu berarti ada ketegangan. Lili Chin menampilkan ini bukan lewat tulisan panjang, tapi gambar-gambar yang memikat, jenaka, dan sangat informatif.

“Mata” menjadi bab yang terasa paling personal. Karena di sanalah kita kerap bertemu tatapan yang seolah tahu isi hati kita. Kucing tidak menatap untuk memerintah, tapi untuk mengenal. Dan dalam diamnya, ada dialog yang lebih dalam dari kata-kata.

Kumis, menurut buku ini, bukan sekadar ornamen. Ia adalah antena. Ia mengukur ruang, mengenali arah, bahkan menangkap getaran. Ketika kumis kucing menegang dan mengarah ke depan, itu berarti si kucing sedang siaga. Ketika kumis jatuh rileks ke samping, ia sedang damai. Tak ada satu pun gerakan di tubuh kucing yang terjadi tanpa alasan.

Saat kita tiba di “Ekor”, kita mulai memahami betapa tubuh seekor kucing adalah puisi. Ekor yang berdiri tegak, ujungnya melengkung seperti tanda tanya, adalah sapaan ramah. Ekor yang mengibas keras adalah peringatan. Dan ekor yang melilit kaki kita dengan perlahan adalah pelukan diam-diam yang hanya bisa dibalas dengan senyum.

Bab “Postur” menjelaskan bagaimana tubuh kucing adalah panggung. Ketika ia mengecilkan tubuh, itu bukan takut, melainkan menghindar. Ketika ia meregang dan merebahkan diri, itu adalah kepercayaan total. Lili Chin mengajak kita membaca postur sebagai narasi: bagaimana kucing menceritakan isi hati mereka melalui bentuk tubuh.

Lalu suara—mungkin bagian paling sering disalahpahami. Meong bukan hanya meong. Ada meong yang mengajak bermain, meong yang merayu, meong yang meminta, dan meong yang penuh luka. Buku ini mengajak kita belajar mendengar, bukan dengan telinga, tapi dengan empati.

Perilaku ramah muncul bukan hanya saat kucing mendekat, tapi saat ia duduk tak jauh dari kita dan mulai menjilati tubuhnya. Ia menunjukkan bahwa ia merasa aman. Kehadiran kita tak mengancamnya. Itulah cinta dalam dunia kucing—cinta yang tak selalu hadir sebagai pelukan, tapi sebagai keberadaan yang diterima.

Di bagian tentang konflik atau stres, buku ini menjadi semacam manual penyelamat jiwa. Ia menjelaskan sinyal-sinyal kecil sebelum amarah atau ketakutan meledak: telinga menyamping, tubuh merunduk, mata membesar. Jika manusia belajar mengenali ini, mungkin akan lebih sedikit cakaran dan lebih banyak pelukan.

Dan pada bab terakhir, “Bermain”, kita diingatkan bahwa bermain bukan sekadar hiburan. Ia adalah latihan berburu, perayaan hidup, dan bentuk lain dari komunikasi. Kucing yang bermain dengan kita sedang berkata: “Aku percaya padamu. Aku ingin bersamamu dalam dunia imajiku.”

Yang membuat Kitty Language begitu memikat adalah bagaimana Lili Chin menghindari gaya akademis dan memilih gaya visual yang luwes, bersahabat, dan mudah dimengerti. Setiap ilustrasi adalah percakapan. Setiap halaman adalah kesempatan untuk lebih dekat, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional.

Buku ini sangat cocok untuk semua kalangan: dari pemilik kucing pemula hingga pecinta kucing veteran. Tak perlu latar belakang biologi hewan. Yang dibutuhkan hanya rasa ingin mengerti dan sedikit kelembutan di hati.

Lili Chin menunjukkan bahwa memahami kucing bukan soal menjinakkan, tapi soal menyelaraskan. Kita tidak diajak menjadi majikan, tapi menjadi kawan sebahasa. Dan seperti dalam semua persahabatan, yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk diam dan mendengar.

Buku ini juga mengajarkan satu hal penting yang sering terlupa: bahwa kucing bukan hanya makhluk lucu, tapi juga makhluk yang punya logika sosial, emosi, dan bahasa yang kaya. Mengabaikan bahasa mereka sama saja dengan membungkam percakapan.

Topik: bahasa kucinghobikitty languagelili chinrenebook
SendShareTweetShare
Sebelumnya

“Mesin Waktu” Penebus Kegagalan Masa Lalu

Selanjutnya

Versi Ringkas 48 Laws of Power: Melihat Sudut Pandang Penguasa Yang Licik

Maria Dominique

Maria Dominique

TULISAN TERKAIT

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Versi Ringkas 48 Laws of Power: Melihat Sudut Pandang Penguasa Yang Licik

Versi Ringkas 48 Laws of Power: Melihat Sudut Pandang Penguasa Yang Licik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In