Jumat, 3 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Gema Suara Hantu di Marina Bay Sands Theatre

The Phantom of the Opera 2025 adalah sebuah mahakarya yang disajikan dengan nyaris sempurna, dan sebuah pengalaman yang benar-benar tak terlupakan.

Oleh Jalal
1 Juni 2025
di Resensi
A A

Saya sudah berkali-kali menonton pertunjukan The Phantom of the Opera di berbagai belahan dunia. Jadi, ketika ada kesempatan lagi untuk menyaksikan produksi terbarunya di Sands Theatre, Marina Bay Sands, Singapura, saya tak menyambutnya dengan antusiasme yang memadai. Produksi sebelumnya di Singapura adalah tahun 2019, dan sebelum itu 2013, dan pada kedua kesempatan itu saya menontonnya. Kamis malam lalu, 29 Mei 2025, akhirnya saya mengantre masuk lagi di depan gedung megah itu, lantaran traktiran sahabat baik saya.

Tentu, tak ada jantung berdebar-debar menanti tirai dibuka, karena merasa sudah hapal dengan pembukaan musikal ini. Tetapi, setelah menyaksikannya hingga selesai, saya bisa katakan dengan penuh keyakinan: produksi ini bukan sekadar pementasan ulangan yang biasa. Ia adalah reinkarnasi yang megah, di tengah-tengah keterbatasan ukuran panggung, dan sebuah pengalaman teater yang menghantui sekaligus memesona. Persis seperti yang dinyatakan oleh berbagai ulasan yang saya baca di media-media massa yang berbasis di Singapura.

Dari sumber-sumber seperti Timeout Singapore, SethLui, Augustman, Nylon Singapore, Esquire Singapore, Tatler Asia, Asia361, dan Little Day Out, satu benang merah kesan yang kuat muncul: produksi kali ini adalah sebuah mahakarya. Dan setelah menimbang benak dan hati saya, dari apa yang saya rasakan selama menyaksikan pertunjukan ini, serta yang tersisa setelah menyaksikannya hingga mulai menuliskan artikel ini, saya sepenuhnya setuju dengan pendapat para kritikus di beragam publikasi itu.

Dunia Kelam yang Begitu Hidup

Begitu pertunjukan dimulai, dunia Opera Populaire langsung menyedot saya masuk. Ulasan di Nylon Singapore menggambarkan tata panggungnya sebagai “menghantui dan memerangkap jiwa” dan itu tepat sekali. Panggung yang dirancang oleh Paul Brown sungguh luar biasa dalam detail dan skalanya. Dari keanggunan ruang dansa yang terlihat lapang—padahal, dibandingkan beberapa teater lain di mana saya menyaksikan Phantom, Sands Theatre terhitung kecil—hingga ruang bawah tanah yang memberi kesan lembap, juga labirin di lorong-lorong di bawah gedung opera.

BACA JUGA:

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Setiap transisi adegan berjalan lancar dan beberapa di antaranya dapat dibilang menakjubkan. Adegan perahu legendaris di bawah danau bawah tanah yang dipenuhi lilin, seperti yang ditekankan oleh Timeout dan Augustman, tetap menjadi momen magis yang benar-benar membuat saya terpana. Efek pencahayaan dan kabut—yang diatur oleh Paule Constable—menciptakan atmosfer misterius dan ketakjuban yang sempurna, menggenapi nuansa cerita kelam yang menjadi jiwa cerita ini.

Namun, puncak keajaiban visual pastilah ada di adegan yang menyajikan tembang Masquerade. Seperti dirayakan oleh hampir semua ulasan, termasuk Tatler Asia dan Asia361, adegan ini adalah pesta warna, gerak, dan kemewahan yang memukau. Kostum-kostum (dibuat Maria Björnson) yang rumit dan penuh warna, tangga yang megah, dan gerakan koreografi yang presisi menciptakan gerak hidup yang begitu kaya dan memabukkan.

Efek suara dan piroteknik yang mengguncang (seperti disebutkan di SethLui), bukan hanya efek panggung biasa, melainkan adalah ‘serangan’ terhadap indera, sebuah pengingat yang menakutkan dan nyata tentang kekuatan dan ancaman Sang Hantu Opera (bayangkan: “So, it is to be war between us! If these demands are not met a disaster beyond all imagination will occur!”). Kalau ada di urusan panggung yang, menurut saya, kurang memuaskan, itu adalah urusan lampu chandelier dan kejatuhannya. Ukuran lampu itu terlampau kecil, dan dari tempat saya duduk, kejatuhannya tak cukup membawa rasa ngeri dibandingkan yang sudah saya alami berkali-kali sebelumnya.

Kekuatan Vokal yang Memukau

The Phantom of the Opera hidup dan mati karena musik karya Andrew Lloyd Webber yang sungguh ikonik. Untungnya, produksi ini diperkuat oleh pemain yang memiliki vokal yang tidak hanya memenuhi, tetapi melampaui harapan yang sangat tinggi.

Ben Forster sebagai Sang Phantom tampil luar biasa. Seperti yang diakui oleh Augustman dan Tatler Asia, dia membawa kedalaman dan dimensi baru pada peran yang sudah sangat dikenal. Suara baritenornya yang kuat benar-benar mencengkeram benak, terutama pada nomor The Music of the Night dan The Point of No Return. Namun, Phantom adalah pribadi yang tak sekadar ditandai dengan kekuatan yang mengancam. Yang membuat Forster istimewa malahan adalah kemampuannya menampilkan kerapuhan dan rasa sakit di balik topeng. Saat dia meratap dalam Stranger Than You Dreamt It atau memohon-mohon dalam klimaks yang mengharukan. Di situ Christine membuat Sang Phantom bukan sekadar monster mengerikan, melainkan manusia yang terluka parah, pasrah di hadapan nasib tragisnya, dan sangat manusiawi. Penampilannya di situ sungguh menguasai panggung dan hampir pasti membuat setiap penonton menjadi iba.

Tak percuma kalau Forster didapuk menjadi Phantom kali ini, mengulangi kesuksesannya pada peran yang sama di West End (2016 – 2017), Yunani (2020) dan Jepang (2024). Dia sudah tampil di panggung-panggung West End sejak seperempat abad lampau, dan sejak 2012 selalu menjadi penampil utama, seperti menjadi Yesus di Jesus Christ Superstar (2012-2014), Buddy di Elf the Musical (2014 – 2018), juga Magaldi di Evita (2014-2015). Dengan deretan pengalaman itu, tak perlu diragukan kemampuan Forster memukau seluruh penonton.

Beradu peran dengannya adalah Grace Roberts sebagai Christine Daaé. Roberts jelas memiliki suara soprano yang jernih, murni, dan sangat luwes. Walau saya tak sepenuhnya puas pada awal-awalnya, namun nomor Think of Me memamerkan keindahan dan kontrol vokalnya, dan semakin memuncak pada Wishing You Were Somehow Here Again. Di situ dia benar-benar berhasil menyampaikan kerinduan dan kesedihan yang menyayat hati. Namun, ujian terbesar selalu ada pada nomor duet bersama Phantom, sebagaimana judul musikal ini. Reaksi kimiawi antara Forster dan Roberts terasa nyata, baik dalam ketegangan maupun kelembutan. Suaranya melayang dengan sempurna di atas orkestra dan, bersama suara Phantom, menciptakan harmoni tak terlupakan pada The Phantom of the Opera maupun dan All I Ask of You (Reprise).

Matt Leisy sebagai Raoul, Vicomte de Chagny memberikan penampilan yang solid dan simpatik. Suaranya yang hangat dan penampilannya yang terasa benar gentlemanly. Sungguh cocok untuk peran bangsawan muda yang jatuh cinta pada Christine begitu mendengar suaranya kali pertama. Dia jelas tidak memiliki kegelapan yang sama seperti Phantom, tetapi seperti yang diulas di Little Day Out, Leisy berhasil membuat Raoul menjadi sosok yang layak buat Christine, penuh tekad dan keberanian dalam menjemput kekasihnya yang diculik Sang Hantu. Duetnya dengan Roberts dalam All I Ask of You terdengar manis, romantis, dan penuh harapan.

Ensemble pendukung juga sangat kuat. Manon Taris sebagai Carlotta Giudicelli menghadirkan komedi yang tepat dengan sikapnya yang berlebihan sebagai diva. Vokalnya yang mengesankan (terutama dalam Prima Donna) banyak mendapat pujian kritikus. Ethan Freeman sebagai Monsieur Firmin dan David Dennis sebagai Monsieur André adalah duo manajer opera yang kocak sekaligus kacau, menyediakan banyak momen komedi ringan yang disambut gelak tawa penonton.

Chumisa Dornford-May sebagai Madame Giry membawa aura otoritas dan misteri yang penting, sementara Megan Giannini sebagai Meg Giry menampilkan keanggunan dan kepedulian yang tulus sebagai sahabat Christine. Tetapi, saya mau menegaskan, di mana pun saya menyaksikan musikal yang membuat rekor pemutaran terpanjang terus-menerus di Broadway ini, tak sekalipun saya kecewa dengan pilihan para pemeran pendukung terpenting ini.

Yang juga layak dinyatakan tak pernah mengecewakan adalah para musikus, termasuk di pertunjukan kali ini.  Beberapa kali telinga saya mendeteksi perubahan dari musik dari original cast-nya, tetapi tak sekalipun saya keberatan dengan aransemen baru itu karena dibawakan dengan sangat matang.

Segitiga Cinta, Obsesi, dan Tragedi

Meskipun ceritanya sudah sangat saya kenal–kisah cinta segitiga antara genius musik yang cacat dan terasing, bintang opera muda yang polos, dan bangsawan penyayang–menyaksikannya hidup di atas panggung dengan kekuatan penuh musik Lloyd Webber adalah pengalaman yang terus-menerus berbeda. Musiknya, yang diarahkan dengan sempurna, tetap menjadi karakter tersendiri. Dari overture organ yang ikonik dan mendebarkan hingga melodi romantis dan balada yang mengharukan, setiap nada berperan dalam membangun ketegangan, menciptakan suasana hati, dan menggambarkan pergolakan emosi para karakter.

Produksi ini, seperti disinggung di Esquire Singapore, berhasil menyeimbangkan skala epiknya dengan keintiman emosionalnya. Adegan besar seperti Masquerade  bisa membuat ternganga, tetapi momen-momen yang lebih kecil–sikap penuh kerinduan Phantom pada Christine, ketakutan Raoul yang nyata, keraguan Christine yang menghancurkan hati–itulah yang benar-benar menancap di benak penonton. Pertunjukan ini dengan berani mengeksplorasi sisi gelap cerita: obsesi Phantom yang merusak, manipulasi psikologisnya pada Christine yang polos, dan konsekuensi tragis dari cinta yang tidak bersambut. Namun, tentu saja, ia juga merayakan keindahan musik, kekuatan seni, dan kompleksitas jiwa manusia.

Sebuah Pengalaman yang Wajib Dijalani

Sebagai seseorang yang kembali mengalami musikal ini secara langsung, setelah berkali-kali menonton versi lainnya, dan mendengarkan hampir seluruh versi rekaman yang ada, saya bisa memahami sepenuhnya mengapa pertunjukan ini tetap menjadi fenomena global selama puluhan tahun. Persis sebelum COVID-19 menghentikan seluruh produksi teater, musikal ini sudah ditonton 140 juta orang, di 183 kota di 41 negara. Dan saya sungguh bersyukur bisa kembali menikmati musikal ini pasca-COVID-19. Produksi di Singapura ini bukan sekadar pertunjukan teater; ia adalah sebuah peristiwa budaya, sebuah perjalanan emosional yang intens, dan sebuah pameran kesempurnaan teknis dan artistik.

Dari desain set dan kostum yang memukau yang membawa Anda ke Paris abad ke-19, hingga kinerja vokal yang luar biasa, juga kekuatan abadi dari partitur Lloyd Webber yang diorkestrasi dengan indah, juga lirik karya Charles Hart dan Richard Stilgoe, setiap elemen bersatu dengan sempurna. Efek khusus, terutama lampu gantung yang terkenal itu, mungkin masih memiliki kekuatan untuk membuat jantung berdebar dan para penonton pertama terkesiap, membuktikan bahwa keajaiban panggung praktis yang dilakukan dengan baik tidak pernah ketinggalan zaman.

Apakah ini produksi yang sempurna? Dalam pandangan saya, tentu tidak, namun sangat mendekati. Beberapa dialog mungkin terasa sedikit kuno bahkan konyol, tetapi hal itu tertutupi oleh semangat dan komitmen dari para pemain. Apakah ini layak untuk ditonton? Buat yang ingin menikmati bentuk seni yang kerap disebut triple threat—menyanyi, menari, berakting—ini, menyaksikan Phantom adalah keniscayaan. Seperti yang dirangkum oleh banyak ulasan, termasuk SethLui yang menyebutnya “megah” dan Asia361 yang menyoroti berbagai kehebatannya, ini adalah produksi kelas dunia yang disajikan tepat di depan mata kita di negeri tetangga terdekat, Singapura.

Bagi saya pribadi, malam itu adalah pengingat yang kuat tentang mengapa saya mencintai teater musikal sejak belia. Ia memiliki kekuatan untuk mengangkat dan menggetarkan jiwa, dan mengubah suasana benak dan hati. Ketika tirai terakhir jatuh dan tepuk tangan meriah menggema di Sands Theatre, saya duduk terpaku sambil tersenyum, masih terhanyut dalam dunia yang baru saja saya tinggalkan. Musik Phantom masih bergema di telinga saya, adegan-adegannya terpateri di ingatan saya. Ini bukan sekadar pertunjukan; ini adalah pengalaman yang, sekali lagi, menghantui–sebuah perjalanan ke dalam hati kegelapan dan cahaya, cinta dan obsesi, keindahan dan tragedi, yang akan terus bergema dalam jiwa saya jauh setelah lampu terakhir dipadamkan dan gedung pertunjukan ditinggalkan.

Bagi siapa pun yang memiliki kesempatan untuk menyaksikan The Phantom of the Opera selama masa pertunjukannya di Singapura (hingga 22 Juni mendatang), saya sangat menyarankan untuk menyaksikannya. Yang dibayar jelas lebih dari sekadar tiket masuk teater, melainkan tiket untuk menyaksikan sepenggal sejarah musikal terbesar yang pernah diciptakan, sebuah mahakarya yang disajikan dengan nyaris sempurna, dan sebuah pengalaman yang benar-benar tak terlupakan. Dan bagi saya, itu juga merupakan konfirmasi atas keyakinan sejak dulu bahwa kisah ini akan terus memikat penonton hingga beberapa generasi mendatang. Kalau mungkin, jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari keajaiban ini.

Singapura, 31 Mei 2025

Topik: The Phantom of the Opera
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Memahami Karbon, Meregenerasi Kehidupan

Selanjutnya

Mengenang Mr Miyagi Sambil Membaca Geopolitik

Jalal

Jalal

Provokator Keberlanjutan, ESG and CSR Strategist, dan penggila buku, film, dan duren. Pengarang buku "Mengurai Benang Kusut Indonesia: Jokowinomics di Bawah Cengkeraman Korporasi" (2020).

TULISAN TERKAIT

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Mengenang Mr Miyagi Sambil Membaca Geopolitik

Mengenang Mr Miyagi Sambil Membaca Geopolitik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In