Rabu, 28 Januari 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Kala Kebohongan Menjadi Pemandu [Belajar dari Drama Pagar Laut]

Jika KKP menyebut pembangunan itu ilegal dan sudah disegel, mengapa pelaku belum ditindak? Negara ini jelas tengah menghadapi masalah serius.

Oleh Ahsan Jamet Hamidi
30 Januari 2025
di Kolom
A A

Saya dan banyak pembaca berita merasa terusik oleh drama terkait pembangunan pagar laut yang terjadi di wilayah Tangerang, Banten. Tanpa bermaksud menambah polemik, saya akan mencoba merangkum permasalahan ini berdasarkan laporan media arus utama.

Alkisah, sebuah kelompok memasang pagar laut dari bambu sepanjang lebih dari 30 kilometer di perairan wilayah Kabupaten Tangerang. Tindakan ini menuai banyak protes. Sebagian menduga bahwa pembangunan pagar bambu ini merupakan bentuk penggadaian wilayah laut Indonesia, sementara yang lain berpendapat bahwa itu adalah upaya baik, terutama oleh nelayan setempat, untuk mitigasi bencana tsunami dan abrasi.

Mana yang benar? Jawabannya tergantung pada perspektif siapa yang Anda dengar. Yang pasti, pada 9 Januari 2025, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyegel pembangunan tersebut karena dianggap ilegal. Namun, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dan Lembaga Ombudsman Republik Indonesia (ORI) menganggap penyegelan itu terlambat. Selama ini, aparat desa, camat, pemerintah provinsi, hingga penegak hukum bersikap diam. Seharusnya, tindakan preventif diambil jauh sebelum pagar laut itu didirikan. Tim gabungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Banten dan Polisi Khusus PSDKP KKP telah melakukan pemeriksaan pada 4-5 September 2024.

Minus Kejujuran

Saya sependapat dengan KIARA dan ORI bahwa pemerintah terlambat bertindak. Bahkan, kesan yang muncul adalah bahwa tidak ada koordinasi yang baik antara badan, kementerian, dan lembaga terkait dalam menangani masalah ini. Alih-alih menyelesaikan masalah, bahkan menyebut nama pelaku saja tak ada yang berani. Saya mencurigai, kekacauan penanganan masalah ini disebabkan oleh ego dan kepentingan masing-masing pihak. Mereka mengabaikan satu prinsip dasar yang seharusnya menjadi pegangan dalam menyelesaikan masalah: kejujuran.

BACA JUGA:

Lampu Petunjuk

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Namun, di balik semua ini, ada pelajaran yang dapat diambil. Pembangunan pagar laut yang terjadi di wilayah pinggiran pusat kekuasaan, yang mudah diamati oleh publik, seharusnya bisa segera diselesaikan. Tetapi mengapa prosesnya begitu lambat dan berlarut-larut? Pembaca bisa menarik kesimpulan berdasarkan cerita ini. Berikut adalah beberapa kesimpulan yang saya petik.

Pertama, saya semakin yakin bahwa ancaman terbesar bagi bangsa Indonesia tidak hanya berasal dari luar negeri. Walaupun kepentingan asing di Indonesia jelas ada, masalah disintegrasi bangsa, ancaman terhadap persatuan dan kesatuan NKRI, bisa justru muncul dari dalam negeri—dari warga negara Indonesia itu sendiri, bahkan dari mereka yang pernah atau sedang memegang kekuasaan.

Kedua, setiap masalah di negeri ini sebenarnya selalu ada solusinya. Namun, solusi sering kali tidak diterapkan karena bertentangan dengan kepentingan pribadi mereka yang terlibat dalam masalah tersebut, atau karena solusi tersebut dianggap mengancam kekuasaan para penguasa. Akibatnya, masalah yang seharusnya dapat diselesaikan dengan cepat justru berkembang menjadi lebih besar dan berdampak luas, karena penanganannya tidak menyentuh inti masalah. Solusi yang diusulkan malah menghindar agar tidak merugikan kepentingan segelintir orang yang berada di puncak kekuasaan.

Ketiga, tingginya tingkat pendidikan, pangkat, jabatan, atau kekuasaan seseorang ternyata tidak selalu sebanding dengan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah. Ketika orientasi hidup seseorang hanya berfokus pada pemenuhan ego dan kepentingannya, deretan pangkat dan jabatan yang dimilikinya menjadi tidak berarti. Machiavelli, dengan sinis, pernah mengatakan, “Siapa yang akan mendirikan sebuah negara yang teratur, harus dimulai dengan asumsi bahwa semua manusia itu pada hakekatnya jahat. Pada saatnya, ia akan memperlihatkan sifat jahatnya ketika ada kesempatan.”

Pelajaran Penting

Bagi saya, drama pagar laut di Tangerang ini memberikan pelajaran penting mengenai standar untuk menilai kinerja dan komitmen aparatur negara. Jargon muluk-muluk yang sering terdengar dalam retorika heroisme, dalam kenyataannya bisa berwujud sebaliknya. Mereka yang dikatakan tangguh, hebat, mampu menjaga, mengayomi, dan melindungi rakyat, ternyata bisa tampil lemah saat berhadapan dengan pihak-pihak yang dianggap mampu memenuhi kepentingan politik dan ekonomi mereka.

Kekacauan dalam penanganan masalah pagar laut ini mengingatkan saya pada pandangan para filsuf klasik seperti Plato dan Aristoteles. Keduanya berpandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah “binatang biasa”, namun kelebihannya terletak pada akal. Jika akal digunakan untuk kebaikan, maka manusia akan menjadi sempurna. Namun, jika digunakan untuk kejahatan, manusia bisa menjadi lebih buas dari binatang.

Negara besar dengan 17.000 pulau dan lebih dari 280 juta penduduk ini, yang dilengkapi dengan jutaan pegawai negeri sipil, polisi, dan tentara, ternyata masih kesulitan untuk menemukan pelaku pemasangan pagar laut di Tangerang (hingga akhir Januari 2025). Jika KKP menyebut bahwa pembangunan itu ilegal dan sudah disegel, mengapa pelaku belum juga ditindak? Bukankah ini ironis? Negara besar ini jelas tengah menghadapi masalah serius dalam kepemimpinan.

Banyak pernyataan dari pejabat tinggi yang terdengar aneh dan kontroversial, tidak sebanding dengan jabatan dan ilmu yang mereka miliki. Mereka lebih terlihat seperti pemain drama yang harus membela kepentingan diri mereka sendiri atau orang-orang yang mereka bela. Mungkin karena itu mereka lebih memilih untuk berbohong. Ketika kejujuran—yang seharusnya menjadi prinsip utama dalam kehidupan—dibuang begitu saja, kita bisa menanti kelucuan selanjutnya.

Topik: kebohongankementerian kelautanpagar laut
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Habis Gelap Terbitlah Megawati

Selanjutnya

Bisakah Demokrasi Menyelamatkan Kita dari Krisis Iklim?

Ahsan Jamet Hamidi

Ahsan Jamet Hamidi

Anggota Dewan Pengarah Sekber Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB), Ketua Ranting Muhammadiyah Legoso, Tangerang Selatan, Wakil Sekretaris LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

TULISAN TERKAIT

Lampu Petunjuk

Lampu Petunjuk

11 Juli 2025
Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci

10 Juli 2025
1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

27 Juni 2025
Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

Ugly, Bad and Okay Mining: Pertambangan Indonesia di Persimpangan Jalan

27 Juni 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Bisakah Demokrasi Menyelamatkan Kita dari Krisis Iklim?

Bisakah Demokrasi Menyelamatkan Kita dari Krisis Iklim?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In