Selasa, 14 April 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Guru Aini: Kisah Kocak Penjuangan Guru di Daerah Terpencil Mencerdaskan Dunia

Oleh Mujib Rahman
4 Januari 2022
di Resensi
A A
Sumber gambar: mengimla.com

Sumber gambar: mengimla.com

Guru Aini adalah buku pertama dari trilogi karya Andrea Hirata berjudul sama. Ceritanya tentang pertemuan dua orang yang memiliki sejuta perbedaan dan tidak memiliki persamaan sama sekali, yaitu Aini dan gurunya, Desi Istiqomah.

Alkisah, tersebutlah seorang gadis jenius yang sangat mencintai matematika melebihi apapun di dunia ini. Namanya Desi Istiqomah. Orangnya tinggi semampai, cantik, dan eksentrik, namun tegas dan memiliki intelijensi tingkat dewa.

Waktu SMA ia lulus dengan nilai matematika sempurna 10. Tak berlebihan jika ia bercita-cita menjadi guru matematika dan memiliki hasrat mematematikakan Indonesia.

Melihat kenyataan bagaimana buruknya kemampuan matematik anak-anak di sekitarnya, Desi ingin berbuat suatu kebajikan. Untuk itu ia mendaftar jadi pegawai negeri dan siap ditempatkan di manapun juga demi satu hal, membudayakan cinta kepada matematika di seantero nusantara.

Namun cita-cita itu terlalu naif bagi orang tua Desi. Kedua orang tuanya menginginkannya kuliah di Fakultas Kedokteran atau minimal Fakultas Ekonomi. Namun Desi sudah menentukan langkahnya sendiri. Jadi dokter atau ekonom, di mata Desi, tak seindah menjadi guru matematika walau di daerah terpencil.

BACA JUGA:

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Sudah jamak bagi PNS baru macam Desi, akan ditempatkan di daerah terpencil dahulu sebelum ditarik ke tempat yang layak. Dalam sebuah undian penempatan, ia mendapat penempatan dinas di Kampung Ketumbi, kecamatan Tanjong Hampar, sebuah negeri pedalaman yang sulit ditemukan di google map. Adanya hanya di google earth.

Menuju daerah terpencil ini sungguh tak mudah. Dari kota, perjalanan ditempuh selama 6 hari 6 malam penuh perjuangan. Naik kapal muatan kayu selama berhari-hari membuatnya Desi mabuk laut dan ciut nyali. Ia menyesal telah bertukar tempat dengan Salamah yang kini menempati pos miliknya, yaitu Bagan Siapi-api, pinggir kota Palembang.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Turun dari kapal ia masih harus menempuh perjalanan 100 kilometer lagi menuju lokasi. Ia bersama tas ransel besar yang super berat diangkut oleh bus reot yang jalannya mirip keong.

Sesampai di kampung Ketumbi, Desi disambut ramah oleh warga yang langsung memanggilnya Bu Guru. Panggilan ini langsung mak jleb, menembus relung hatinya dan spontan menghidupkan energi kehidupan yang sempat redup disiksa perjalanan. Seketika lelahnya lenyap, berganti semangat membara menjadi guru matematika.

Singkat cerita, Desi bertemu dengan seorang siswi bebal, kampungan, dan alergi matematika. Mendengar kata itu saja perutnya langsung mual. Hasil ujian matematikanya dari SD selalu 1 0 1 0 seperti bilangan biner. Namanya Aini.

Aini yakin dirinya tidak dilahirkan untuk matematika, tetapi menyanyi. Untuk yang satu ini ia sangat percaya diri walaupun suaranya fales. Bersama dua sahabatnya Enun dan Sa’idah, Aini membentuk grup band yang tidak satu pun orang pernah meminta mereka tampil.

Di SMA Ketumbi mereka bersuka ria karena tidak masuk kelas matematikanya Bu Desi. Mereka ada di kelas IPS asuhan Pak Tabah yang cara mengajarnya super santai dan tabah menghadapi cobaan.

Aini punya ayah yang sedang sakit. Untuk itu ia rajin merawat dan menggantikan tugas ayahnya berjualan mainan di kaki lima. Membolos sekolah menjadi kebiasaan Aini demi mencari sesuap nasi. Karena itulah ia tinggal kelas di kelas satu. Kondisi ayahnya ini membuat Aini kebingungan. Kata Tabib ternama di Tanjong Hampar, yang dapat menyembuhkan penyakit ayahnya hanyalah ilmu kedokteran.

Setelah mendengar nasihat tabib itu Aini membulatkan tekat bercita-cita menjadi dokter. Sebenarnya ada rasa kurang pede bila melihat nilai matematikanya. Semua tahu, matematika adalah pelajaran utama jurusan IPA, di mana ilmu kedokteran berada. Bahkan kata pak Tabah, matematika adalah ibu dari segala ilmu pengetahuan di dunia ini. Mau tidak mau untuk mewujudkan cita-citanya ia harus menguasai matematika.

Di sinilah drama demi drama berlangsung. Andrea Hirata, seperti biasa, dengan cantik membawakan kejadian-kejadian harian dengan narasi yang lucu dan amat menghibur. Diksi-diksinya kocak dan anti mainstream. Pertemua Desi dengan Aini menjanjikan warna-warni kejadian yang enak dinikmati, sekaligus menghibur dan memberi pelajaran.

Di Tanjong Hampar ini dua pribadi yang bertolak belakang tipenya bertemu dalam hubungan guru dan murid. Yang satu jenius jago kalkulus, yang satunya kampungan alergi matematika. Di otaknya sama sekali tidak ada angka-angka sehingga segala macam teori yang diberikan mental semua.

Di SMA Ketumbi inilah semangat Desi yang awalnya membara bagai api unggun mendapat tantangan berat. Di sini mayoritas siswanya tak biasa menjalankan otak kiri dan berharap matematika tidak pernah dilahirkan di dunia ini. Mereka memanjatkan doa tolak bala agar tidak bertemu matematika.

Sejuta rintangan terpaksa dijalani oleh Desi karena ia sudah terlanjur bersumpah, tidak akan ganti sepatu sebelum menemukan murid brilian yang dapat menuruni ilmunya. Maka setiap hari, walaupun berdandan rapi dan modis, bagian kakinya tetap dihiasi sepatu usang dan butut pemberian ayahnya.

Judul Buku: Guru Aini

Penulis: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang

Genre: Fiksi

Tebal: 300 halaman

Edisi: Cetakan 4, Desember 2021

ISBN: 978-602-291-686-4

Topik: Headline
SendShareTweetShare
Sebelumnya

3 Cara Jitu Download Buku di Google Books

Selanjutnya

Pengertian 5W 1H Dalam Berita

Mujib Rahman

Mujib Rahman

Wartawan Senior

TULISAN TERKAIT

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025
Selanjutnya
Selanjutnya
Pengertian 5W 1H Dalam Berita

Pengertian 5W 1H Dalam Berita

Ulasan Pembaca 1

  1. Ping-balik: Guru Ngonten Vs Guru Menulis - Jakarta Book Review (JBR)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In