Rabu, 28 Januari 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Jakarta Book Review (JBR)

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

Catatan Buku "Muslim Ahmadiyah dan Indonesia"

Oleh Ahsan Jamet Hamidi
26 Januari 2026
di Resensi
A A
kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka: Catatan Buku “Muslim Ahmadiyah dan Indonesia”

Minggu lalu, saya mengikuti peluncuran buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan. Buku dua jilid ini memuat tulisan dari 100 tokoh dan penulis yang seluruhnya berasal dari luar komunitas Ahmadiyah.

Sebagai penulis pemula sekaligus pembaca, saya merasakan betul adanya nada cinta, penuh empati dalam setiap kata yang tersaji. Setiap tulisan menghadirkan kehangatan dan kejujuran, seolah mengajak pembaca untuk memahami dengan hati yang terbuka.

Gaya penulisan para kontributor tentu beragam, sejalan dengan kodrat manusia yang tak pernah lepas dari perbedaan. Keragaman itu terasa semakin kaya karena para penulis datang dari latar belakang yang sangat beragam. Tidak hanya berbeda dalam afiliasi organisasi keagamaan, tetapi juga dalam hal usia, jenis kelamin, warna kulit, suku, dan berbagai identitas lainnya.

Perbedaan tidak hanya tampak pada gaya penulisan yang mencerminkan karakter masing-masing penulis, tetapi juga pada agama yang mereka anut. Perbedaan agama, termasuk paham keagamaan dan afiliasi organisasi keagamaan sengaja saya tekankan, sebab bagi sebagian orang yang kerap bersikap fanatik terhadap pilihannya, perbedaan itu sering kali menjadi pembatas bertembok tebal, yang menyempitkan ruang hidup mereka. Dalam konteks inilah, terkadang perbedaan itu berpotensi melahirkan persoalan dalam kehidupan keseharian. Ketika perbedaan tidak dipahami sebagai kenyataan yang niscaya, ia mudah menjelma menjadi sumber prasangka, penolakan, persekusi, bahkan konflik.

BACA JUGA:

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

The Great Gatsby: Kemewahan, Cinta, dan Kehampaan

Perbedaan gaya penulisan, pilihan kata, diksi, dan bahasa dalam buku ini tidak akan menyulitkan pembaca untuk memahaminya. Pasalnya, seluruh tulisan telah melalui proses penyuntingan oleh Ismatu Ropi dan Dedy Ibmar. Melalui sentuhan hati dan cinta dari keduanya, setiap tulisan terasa mengalir, renyah, dan nyaman dibaca. Pengalaman itu saya rasakan sendiri saat membaca tulisan saya di Buku Jilid II halaman 199. Dalam hati saya bergumam, “Kok jadi enak ya susunan kalimatnya….” Ungkapan batin sederhana itu menjadi bukti betapa peran editor sangat menentukan. Terima kasih kepada para editor yang telah memudahkan pembaca dalam memahami seluruh tulisan di buku ini.

Komunitas Ahmadiyah mulai hadir di bumi Nusantara sejak tahun 1925, jauh sebelum Indonesia merdeka. Sejak awal kedatangannya, Ahmadiyah memilih menempuh jalan damai serta membaktikan diri bagi kemaslahatan bangsa. Sebagaimana organisasi keagamaan lainnya, Ahmadiyah berkontribusi melalui berbagai bidang, antara lain pendidikan, layanan kemanusiaan, penguatan kerohanian, serta dialog lintas iman. Seluruh upaya tersebut dijalankan dengan kesadaran bahwa perbedaan merupakan sunnatullah, dan hakikat keberagaman terletak pada pengabdian kepada Allah SWT serta pelayanan kepada sesama manusia. Pesan tertulis ini disampaikan oleh Zaki Firdaus Syahir selaku Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

Saya mencatat pendapat Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menteri Agama, yang disampaikan pada peluncuran sebuah buku terkait akar masalah munculnya beragam sikap warga non-Ahmadiyah. Ia mengakui bahwa Jemaat Ahmadiyah merupakan salah satu organisasi keagamaan Islam yang sangat solid di dunia.

Untuk dapat tergabung dalam jemaat ini, seseorang harus melalui proses baiat, yakni semacam janji kesetiaan dan ketaatan kepada pemimpin (imam, khalifah, atau ulama), selama tidak bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, kepemimpinan dalam urusan keagamaan bagi para pengikutnya berjalan secara terstruktur, dengan jaringan yang saling terkoneksi hingga ke seluruh penjuru dunia.

Ia mengingatkan agar karakteristik tersebut tidak mendorong tumbuhnya sikap eksklusif di kalangan pengikut Ahmadiyah. Sebaliknya, para pengikut Ahmadiyah juga perlu bersikap terbuka serta mampu berbaur dalam lingkungan sosial yang inklusif. Misalnya, ada rumor yang selalu disampaikan oleh mereka yang selama ini tidak respek dengan Ahamadiyah, salah satunya karena adanya ajaran bahwa warga Ahmadiyah kurang berkenan jika dalam sholat berjamaahnya harus dimami oleh orang lain (meski sesame muslim tetapi bukan dari komunitas Ahmadiyah). Hal itu mesti dijelaskan secara gamblang.

Saya setuju dengan pandangan kritis mantan Menteri Agama tersebut, meskipun hal itu tidak saya temukan ketika berjumpa dengan Firduas Mubarik, salah seorang aktivis muda Ahmadiyah. Ia sosok yang sangat terbuka, asik, mudah bergaul dengan siapa saja, dan selalu menggerakkan anak-anak muda Ahmadiyah untuk aktif serta bersikap inklusif. Mereka diajarkan untuk menerima perbedaan, bukan menjauh atau meniadakan orang yang berbeda. Ajaran seperti ini belum pernah saya temui di komunitas Ahmadiyah manapun yang saya temui.

Saya sangat setuju dengan pandangan Milastri Muzakkar, seorang perempuan pegiat literasi dan keberagaman untuk anak-anak muda. Mila berpesan bahwa, berdasarkan pengalamannya, orang yang membenci atau salah paham terhadap Muslim Ahmadiyah umumnya karena tidak benar-benar mengenal keyakinan dan nilai-nilai yang mereka anut.

Sebagai warga Muhammadiyah, saya merasa terhormat saat diberi kesempatan ikut menulis kisah dari pengalaman nyata hidup saya di dalam buku ini. Ternyata saya tidak sendirian, ada banyak pengurus Muhammadiyah lain yang ikut menyumbang tulisan di dalam buku ini. Antara lain; Prof. Abdul Mu’ti, Prof. Alimatul Qibtiyah, Prof. Ahmad Najib Burhani, Azaki Khoirudin, Yulianti Muthmainnah, Ahmad Fuad Fanani, Anda Nubowo, Yayah Khisbiyah, Ismail Hasani.

Pernyataan Mila di atas persis seperti pengalaman yang saya alami. Dulu, saya pun pernah keliru memahami Ahmadiyah karena minimnya bacaan dan pergaulan dengan komunitas mereka. Namun, setelah bermukim di Manislor, Kuningan, Jawa Barat, selama tiga hari dua malam dan aktif berkegiatan bersama mereka, muncul rasa cinta dan penghargaan yang mampu menghapus segala kekeliruan atau kesan negatif yang sebelumnya mungkin menebal — bahkan yang bisa berkembang menjadi prasangka, kecurigaan, atau kebencian.

Penutup

Jika saya berhasrat meniadakan perbedaan hanya karena dilandasi oleh kebenaran versi saya sendiri, maka saya pun harus siap meniadakan sebagian organ dari tubuh saya sendiri. Sebab, tubuh ini kerap kali memiliki kehendak yang berbeda dengan pikiran dan batin.

Ada kalanya niat hati ingin berlari pagi, tetapi tubuh menolak karena rasa sakit yang menjalar ke seluruh raga hingga sulit digerakkan. Apakah, dalam keadaan seperti itu, saya harus meniadakan raga yang sedang tidak selaras dengan jiwa?

Selamat membaca tulisan-tulisan yang renyah, mengalir, dan ditulis dengan hati, sebagaimana tersaji dalam buku ini.

Topik: ahmadiyahbuku
SendShareTweetShare
Sebelumnya

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Ahsan Jamet Hamidi

Ahsan Jamet Hamidi

Anggota Dewan Pengarah Sekber Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB), Ketua Ranting Muhammadiyah Legoso, Tangerang Selatan, Wakil Sekretaris LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

TULISAN TERKAIT

Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim: Membaca Narasi Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam

20 Oktober 2025
Cover buku "The Great Gatsby"

The Great Gatsby: Kemewahan, Cinta, dan Kehampaan

9 Oktober 2025
Selanjutnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

kenal lebih dekat

Kenali Lebih Dekat untuk Menjauhi Prasangka

26 Januari 2026
Kisah dari Negeri Para Insinyur

Kisah dari Negeri Para Insinyur

21 November 2025

Di Persimpangan Jalan: Minyak, Memori, dan Misi Mustahil Indonesia

17 November 2025
Try Sutrisno

Peluncuran Buku “Filosofi Parenting Try Sutrisno” Sajikan Formula Pola Asuh Keluarga Indonesia

15 November 2025
Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

Tahap Akhir “AYO BACA!” Institut Prancis Indonesia: Soroti Dunia Literasi dan Sastra Kontemporer

14 November 2025
Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

Buku “The Girl with the Dragon Tattoo” Jadi Best Crime & Mystery versi Goodreads

29 Oktober 2025

© 2025 Jakarta Book Review (JBR) | Kurator Buku Bermutu

  • Tentang
  • Redaksi
  • Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Masuk
  • Beranda
  • Resensi
  • Berita
  • Pegiat
  • Ringkasan
  • Kirim Resensi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In